BACKPACKER dari PADANG – KUALA LUMPUR, MALAYSIA – SINGAPORE- BATAM ala Barbie’s on Vacation

Lateposttttt banget. Hahaha…tapi daripada nggak ye. Minimal sebagai pengingat kalau negara-negara ini udah masuk ke salah satu tujuan yang “sudah” dikunjungi. Ceile…sombong nean.

Travelling nya ini Februari 2014. Etdaaahh..udah 2 tahun aja. Ho’oh, masih jaman gadis tingting, waktu si ayu tingting juga masi tingting. Halah..

Pakai penerbangan Airasia lah ya pastinya. Secara awak ni cuma anak kost tapi hobi mahal. Halah, minimal biar mahal dapatnya ya  tiket murah la. Hihihi…

Tiket Airasia dari Padang-Kuala Lumpur kebetulan lagi murah (lupa berapa karna udah 2 tahun (ngeles 1)). Trus, termakan rayuan si ticketing untuk lanjut ke Singapore. Yah, tergiur lah wong cuma Rp. 200 rebu kalau ngga salah.

Gilingan…persiapan untuk berangkat banyak banget. So, yang berangkat itu para perawan tingting berjumlah 5 orang dan menamakan diri Barbie’s on Vacation. Penting? Ngga sih. Siapa aja? Aku, siska, suci, sammy, dwi. Pernah kesana sebelumnya? Ya kagaklah..ini perjalanan pertama dan tanpa tour guide. So? Ah, udah gede gausa pala pake tour guide la (baca pake logat Medan). Benernya lebih pengen berpetualang sih dengan cari tempat baru. Yah beraniin diri aja. Berbekal review-review yang didapat dari mbah google plus tiap sore meeting kecil antar personil untuk nentuin rute perjalanan nanti. Hahhaha..

Inget banget, penerbangan AirAsia dari Padang to KL itu diambil jam 8 pagi. Suci, salah satu personil, yang berperan sebagai bendahara plus emak2 mulai oseng2 nasi goreng sebagai bekal sarapan dari jam 5 pagi. Berangkat dari kost-kostan jam 6 pagi dan sampai di Bandara Internasional Minangkabau jam 7 pagi. Ni foto di bawah masih kece menyambut kedatangan pesawat.

20140227_081641

Tragedi..kebetulan di bulan itu lagi marak-maraknya kebakaran hutan di Pekanbaru Riau. Dan penerbangan hari itu kena dampaknya. Delay? Yoo..delay sampai jam yang tidak ditentukan. Sebentar jam 11, jam 12, 13, 14 dan 15.

Finally, pesawat Air Asia dari Malaysia nggak berani mendarat di Padang. So, penerbangan Air Asia dari Padang ke Malaysia hari itu  BATAL. Mau nangis..tapi udah lecek (apa hubungannya). So, puter otak. Balik kantor ya malu lah, mana hotel juga udah di bayar untuk hari itu. Cuti juga udah dipake sehari. Dan yang jelas, pihak Air Asia belum pastikan kapan dan hari apa akan berangkat karena ini bener-bener cuaca darurat. So, daripada malu harus balik kantor dan rugi cuti, maka diambilah kesimpulan untuk tetep pergi via Medan dengan Lion Air. Bah.. ada duit? Terpaksa ada. Penerbangan Padang-Medan kan memang nggak terganggu asap karena nggak lewat pekanbaru, gitchu. Keputusan diambil sudah jam /6 sore. Sedangkan pesawat Padang-Medan itu jam 6 sore udah caw. Yaudah, dengar pengumuman kalau penumpang pesawat Padang-Medan udah disuruh naik ke pesawat, kita baru beli tiket. Lari-lari konfirmasi ke pihak Air Asia kalau kita mau uangnya di refund aja. Lari-lari lagi bawa barang karna udah panggilan ketiga, finally ngos-ngosan sampai di pesawat.

Penerbangan ke Kuala Lumpur via Medan itu jam 10 malam. Kebayang lah sampai di Kuala Lumpur jam 11 malam dan celingak celinguk sana sini, beli kartu simcard hape, naik bus dll akhirnya sampai hotel jam 3 pagi dan tepar.

Benernya pengen ceritain secara rinci, tapi ciyusan deh… 2 tahun yang lalu itu bener-bener buat lupa dengan tiap detailnya. Harga tiket pesawat, transportasi selama disana, hotel, dll. Karena no foto = hoax, jadinya daripada ceritanya malah kepotong ditengah-tengah karena lupa mendingan liat-liat foto kami selama disana aja ya. Hehehhe…

DSCp01643

Kita-kita nginapnya di Bukit  Bintang, so ini mau otw jenjalan gitu.

DSC0164k7

DSC016l82

DSC01i689

DSC01742oDSC01682l

Next, to Genting Highland

DSC01834k

DSC01851h

Apa aja yang dilakukan?? Belanja. Ngeborong sendal + tas yang kece-kece. Tas pada ngga muat n harus rela bahu pegel nenteng tas karna isinya belanjaan semua. Maklumlah wanita..

SINGAPORE

DSCN0687

SAM_0335

DSCN0692

DSC0192j3

Pulangnya kami naik kapal ferry via Batam. Nyampe di Batam nginap 1 malam trus JJS ke Nagoya Hill sebelum balik ke Padang kota tercinta ku juga dan ku bela.

DSCN0723

Selesai deh perjalanan dari Padang – Kuala lumpur – Singapore – Batam yang udah 2 tahun lalu itu. Hihihi…telat banget. Next, mau nulis yang backpackeran ke Phuket di bulan Mei 2014 alias teteeupp latepost 2  tahun lalu. Ampooonn..

Tapi ntar ya…anak mudanya bobox duyu.

Visit Sumbar 2015: Malibo Anai keterusan sampai ke Batusangkar

Ketika ibu hamil punya kaki yang bawaannya pengen jalan aja. Yuhu, di sabtu pertama November 2015, si janin lucu berumur 27 minggu, dan si emak gendut lagi ngulet-ngulet di tempat tidur. Tetiba kepengen manjangin kaki (yeahh..emang si janin doang yang bisa meregang kakinya sambil nyundul-nyundul perut) n manggil sang suami. Setelah perdebatan alot antara males pergi tapi mau pergi, akhirnya yah pergi.

“Kemana ma?” kata suami

“Ke Padang Panjang yuk pa.” sambung aku

“Yauda, cepetan donk gerak nya.” lanjut suami

grasak-grusuk persiapan kilat. Kemana? Ke Padang Panjang. Trus kemana? Nggak tau. Perjalanan tanpa tujuan sebenarnya. Tiba-tiba teringat dengan rumah buku nya Fadli Zon yang di Padang Panjang. Tapi belum tau letak nya dimana. Cari-cari di mbah google kayaknya juga nggak nemu.

Perjalanan dimulai dengan “isi bensin” dulu. Isi bensin mobil plus “isi bensin” bumil dan pamil. Singgah di Sup Uni Des tepi pantai Padang. Nasi Sup nya enak la ya. Sepiring nya Rp. 16.000 yang dihiasi dengan potongan-potongan daging yang lumayan tebel dan gede. Singgah ke sini jangan lupa campurkan kerupuk jangek ke dalam piring dan dimakan bersama dengan sup. Rasanya… amboy mak. Setelah piring licin tak bersisa, masih juga ngambil yang namanya Sala Lauak (bener nggak sih tulisannya?). Sala Lauak ini makanan khas minang. Bentuknya bulat-bulat kuning. Berbumbu dan ada rasa-rasa ikan gitu.

sala lauak.jpg

Bawa duit Rp. 50.000 bisa lah makan berdua di Nasi Sup Uni Des. Include Nasi Sup 2, Teh Botol Sosro 2, Kerupuk Jangek 3 dan Sala lauak 2. Masih ada kembalian beberapa ribu untuk parkir.

Untuk ke arah Padang Panjang dari Nasi Sup Uni Des, kami lewat dari Jalan Ulak Karang yang ke arah Basko. Tiba-tiba teringat sama tempat yang namanya Malibu Anai. Malibu Anai itu salah satu resort di sepanjang jalan Sicincin-Padang Panjang. Letaknya sebelah kiri dari jalan. Biasanya sih dipakai orang-orang untuk outbond, acara resmi or sekedar mandi-mandi doang. Soalnya disana tu ada tempat pemandian sejenis kolam yang ada batu-batu dan air terjunnya.

Keisengan mendadak akhirnya membawa suami membelokkan setir ke arah kiri. Uang masuknya itu Rp. 5000 yang diambil sama penjaga depan pos. “Trus kita kemana ma?” kata suami. “Kemana ya? Yah jalanin aja deh dulu pap.” lanjutku dengan muka bingung. Heheheh…

Awalnya kita belok ke kanan dulu, ngeliat pemandangan-pemandangan aja. Sepi sih ya. Dengan jalan yang sedikit naik turun, trus ngeliat beberapa anak SMA yang makan di pinggir taman sambil siram-siraman air minum. Jalan terus ke atas, ternyata ada sekelompok mahasiswa yang sepertinya mau outbond dan masuk ke pemandian. Hmm… akhirnya kita muter arah deh.

Next, cari-cari tempat lucu dan sepi untuk foto-foto geje. No foto hoax ya… yah beginilah salah satu hasilnya yang nggak banget karena ngrasa jalan milik sendiri

DSC_0129

Hanya ambil beberapa gambar, udah mulai kedengaran gluduk-gluduk yang tanda nya mau hujan. Yah akhirnya perjalanan Malibu Anai diakhiri dengan waktu sekitar 30 menit sajah.

Next, kami lanjut ke Padang Panjang. Kota yang dikenal dengan julukan Serambi Mekah. Kenapa? Karena Kota Padang Panjang ini terkenal sangat religius sekali. Dengan kondisi kota yang di kelilingi gunung-gunung, udara yang dingin, kondisi hujan yang nggak bisa diprediksi BMKG dan yang pasti kotanya sepi. Adem, julukan tambahan untuk kota ini.

Rencana awal ke rumah buku Fadli Zon kayaknya diurungkan, karena kami nggak tau tempatnya. Mungkin dikunjungan lain bakalan singgah kesana deh. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang ketika kami sampai di Kota Padang Panjang. Ngeliat pondok Sate Mak Syukur yang terkenal itu, tapi sebagai mak hamil yang perutnya buncit, siang-siang makan sate kayaknya cuma gelitik-gelitik usus. Akhirnya, aku berhasil merayu sang suami untuk parkir di salah satu resto di Padang Panjang namanya RM Pak Datuak. RM Pak Datuak ni termasuk rumah makan yang rame, mungkin karena letaknya strategis juga termasuk rumah makan gede di Padang Panjang. Lauk nya dihidangkan (khas RM Padang), kami makan rendang 2, gulai cancang seporsi, nasi, teh manis dingin dibayar dengan Rp. 85.000. Tapi kok kayaknya lebih puas dengan RM Lamun Ombak ya? hahahahah..

Setelah makan siang di RM Pak Datuak, terjadi kebingungan arah lagi. Mau ke Bukittinggi atau ke Batusangkar. Jalanan ke Bukittinggi sudah bisa dipastikan macet karena hari Sabtu pasti banyak banget yang liburan kesana. AKhirnya diputuskan untuk ke Batusangkar.  Arah jalannya? Setau saya sih arah jalannya kalau dari Padang Panjang itu belok ke kanan ke arah Solok dari kota. Ikuti aja petunjuk arah di jalanan yang membawa kita ke Batusangkar.

Batusangkar terkenal dengan Istana Pagaruyung yang merupakan ciri khas rumah adat Minang dengan Bagonjong nya. Pernah liat di Museum Adityawarman Padang, tapi kayaknya kalau nggak kesana kok kayak belum sah ya tinggal di ranah Minang.

Sempat kesasar juga sih ya mau ke Istana Pagaruyung, tapi saran ku sih yang penting liat petunjuk jalannya aja. Kalau udah agak kesasar, tanya sama penduduk yang lewat pasti dikasi arah yang benar.

Finally, sampai juga di Istana Pagaruyung. Guedeeee… megah…apalagi ya..?
Uang masuknya Rp. 7000/orang untuk wisatawan domestik dan Rp. 14.000/orang untuk wisatawan luar negeri. Memasuki pagar dari Istana Pagaruyung, sayup terdengar lantunan lagu Minang yang mendayu-dayu. Buat janin kecil jadi pengen bergoyang di dalam perut. Pokoknya suasananya minang banget lah ya.

Jam menunjukkan pukul 2 siang ketika kami sampai di Istana Pagaruyung. Disambut dengan matahari yang lagi sengit-sengitnya bersinar buat emak gendut gak selesai-selesai menyeka keringat. Fiuhhh…

No pic pasti lah hoax, ini beberapa gambar yang diambil di depan Istana Pagaruyung. Oiya, untuk foto kami berusaha mandiri dengan menggunakan tripod. Wwkwkwkwk..jijay ya. Tapi demi..demi dan demi menangkap momen-momen indah. Hihiihi..

DSC_0144.JPG

Trus kami masuk ke dalam Istana, tapi terlebih dahulu sendal dan sepatu harus dititipkan di penjaga depan. Dimasukkan ke dalam kantong plastik untuk masing-masing pengunjung, jadi nggak disatukan dengan pengunjung lain. Mungkin bisa rebutan ntar kalo disatukan dengan yang lain. Oiya, ada 3 lantai dalam Istana Pagaruyung. Lantai 1 isinya peninggalan benda-benda kerajaan gitu plus patung-patung dengan pakaian adat Minang.

IMG_20151120_094343.jpg

IMG_20151120_094359

IMG_20151120_094415

Lantai 2 isinya ornamen-ornamen nikahan untuk adat Minang gitu. Mulai dari panggung hiasan-hiasan untuk latar tempat nikahan Minang.

IMG_20151120_095843.jpg

Lantai 3 isinya kayak ruangan kecil. Ada meja bundar kecil dikelilingi kursi-kursi untuk ngopi raja-raja dulu kali ya.

DSC_0179

Finish, kita kembali ke lantai dasar. Setelah turun tangga, kita diminta untuk memberikan sumbangan untuk penitipan sendal dan sepatu. Seikhlas hati pengunjung aja sih dan dimasukkan dalam kotak di depan yang udah disediakan sama penjaganya.

Di Istana Pagaruyung juga ada penyewaan baju adat Minang. Jadi kalau kita mau foto-foto alay pakai baju adat Minang, bisa disewa di lantai dasar dengan harga Rp. 35.000 – Rp. 40.000 / baju. Trus bisa minta tolong sama uda-uda untuk difotoin dengan kamera mereka. Bayarannya belum ditanyain karena kami ngga mencoba pakai jasa mereka. Oiya, karena kegerahan, jadinya si emak gendut ini nggak jadi nyobain baju adat Minangnya. Udah lengket banget kepengen pulang.

Di luar Istana Pagaruyung banyak banget jual makanan, tapi kami mutusin beli minum di swalayan aja deh biar terjamin keabsahannya. Jiaahh..

Jalan pulang nya kami lewat dari Padang Panjang. Karena, rasanya lebih dekat dari Padang. Selain badan emak gendut udah tepar, si suami juga udah ngantuk berat. Oiya, pulangnya nggak lupa singgah dulu di Bakso Mas Tris Tabing plus jjs nggak jelas di Basko. Ini capek atau capek?

Yuk kapan lagi kita kemana pa?

 

visit SUMBAR 2014: PuLau Pamutusan dan Pulau Pagang

Sumbar a.k.a Sumatera Barat yang ibukota nya Padang adalah salah satu Ibukota Propinsi yang tidak terlalu besar dibanding Medan. Yaiyalah..masa dibandingin sama Medan ya. Sumbar memang tidak ramai, tidak metropolitan, tidak macet, tapi terkadang itu yang buat kangen kalau aku sudah mendarat di Medan. Apalagi melihat kemacetan Kota Medan dimana si Komo selalu lewat tiap menitnya. Terkadang jadi kangen sepi nya Kota Padang.

Sumbar itu kaya banget sama wisata alamnya. Jadi inget dulu, pertama kali ke Padang ngeliat laut secara langsung itu suprise banget. Teriak-teriak gak karuan, “lauuttt…eh lauutt…wahh…” Kampungan sih ya, tapi emang kenyataannya gitu. Satu-satunya pantai yang pernah aku datangi hanya Pantai Gudang Garam di daerah Lubuk Pakam Medan. Jauh dari bayanganku karena hanya hamparan pasir hitam dan air laut yang bukan berwarna biru tapi coklat. Mungkin dikarenakan terlalu banyak pengunjung yang tidak menjaga kebersihan di daerah pantai. Atau, aku pernah juga di ajakin teman gereja jaman dulu pergi ke Pantai apa gitu namanya. Dalam bayanganku itu pantai indah berpasir putih seperti di film. Hasilnya… ZONK. Ternyata hanya sungai yang airnya mengalir melewati batu-batuan, arusnya terkadang deras dan terkadang tenang. Aaaaahh…itu bukan Pantai. *garuk2 dinding…

Perjalanan kali ini ke satu pulau namanya Pulau Pamutusan atau kerennya Pamutusan Island. Dengan formasi lengkap Barbie’s on Vacation ditambah teman2 kantor lain dan teman2 baru yang nantinya akan bersama2 berjuang di Sumbar ini. Perjalanan di mulai jam 7 pagi dengan menyewa angkot. Hahhaha… Angkot yang lagi mangkaL di pasaraya dan dipaksa untuk mengantar kami ke daerah Bungus. Tepatnya pantai Caroline. Pantai Caroline merupakan pantai awal untuk pergi ke Pamutusan Island menggunakan jasa Bang Carlos yang juga punya Losmen Carlos. Biaya untuk ke Pamutusan Island dan Pagang Island 350.000/orang termasuk guide, life jacket, makan siang, boat menuju pulau, foto underwater, banana boat, dan snack.

20140816_09094520140816_092042

Rombongan pertama pergi menggunakan perahu cepat. Sedangkan kami setelah menunggu sekitar 15 menit akhirnya berangkat menggunakan kapal boat cepat berwarna putih yang kecepatan nya jauh lebih cepat dibanding perahu pertama. Maaf ya..hahahah..

20140816_09305220140816_092847

Pulau yang kami temui pertama adalah Pulau Sikuai, tetapi sepertinya waktu itu pulau Sikuai ini sedang tidak dalam masa aktif. Halah apa bahasa ini..

20140816_162039

Next, Pulau Pagang…tapi kami hanya lewat saja karena tujuan pertama kami adalah Pulau Pamutusan. Jarak dari Pulau Pagang ke Pamutusan hanya sekitar 10 menit menyebrang menggunakan boat. Dekat banget..

20140816_095756

Finally, akhirnya sampai di Pamutusan. Keren sumpah… Lautnya biru, pasirnya putih. Imbang deh sama Maya Bay nya Krabi Island. hahahha.. Lebay? Nggak sih..  Tapi emang beneran keren, mungkin hanya kurang promosi dari pemerintah daerah. Nih sebagian gambar yang aku foto langsung dari kamera Oppo R1

Pamutusan Island

Pamutusan Island

20140816_100937

Setelah sampai, kita foto2 narsis semuanya. Trus diajakin ke Puncak Bukit dan bisa ngliat Pulau nya yang indah banget dari atas.

Pamutusan Island, dilihat dari Puncak Bukit

Pamutusan Island, dilihat dari Puncak Bukit

20140816_102253

20140816_10453420140816_104223

Setelah selesai foto2 di puncak bukit dan pantai, guide memberikan makan siang. Nasi bungkus dengan lauk ayam sambel. Lumayan la ya daripada enggak sama sekali. Jam 12 tepat, kita mengambil keputusan untuk snorkling ria di laut. Menghitam?? Banget..  Untuk foto underwater, biasanya guide akan meminta memori card untuk nyimpan hasil foto. Jadi kita gak perlu repot buka laptop dll untuk mindahin foto. Memori card yang dipakai waktu itu adalah memori card dari kamera digital teman yang namanya Mangantar. Tapi memang dasar kami tidak bisa berenang jadi hasilnya standar dan terkesan maksa. Hahhahah…

Ubur2 laut…iyaaawwww… kena gigit. Haih..pedih dan panas. Trus karang-karang laut yang tajam dan indah juga berperan penting dalam luka2 yang akan kami bawa pulang ke Padang. Kenapa snorkling di Pamutusan? Karna di Pamutusan terdapat karang-karang yang lumayan bagus dan ikan-ikan kecil yang berenang riang gembira kesana kemari.

Lelah bersnorkling ria, kita nglanjutin ke Pagang Island dengan muka yang udah memerah dan panas. Sampai di Pagang, kita main2 banana boat yang udah disediakan. Tapi kapal yg menarik si banana ngadat2 ga jelas. Jadi agak gimanaaa gitu. Ada sekitr 10 menit si kapal berkondisi baik untuk menarik si banana. Setelah dijatuhkan 3 kali di tengah pantai, kami kira akan diturunkan di tepi untuk beristirahat. Ternyata kenyataannya tidakk..!! Kami disuruh berenang sampai ke tepi. Olahraga supaya kurus? Tapi seru juga karna kami terombang ambing arus ombak. Pulau Pagang enggak ada karang, hanya laut dengan pasir putih halus. Kerenn..

Setelah sejam bermain banana, akhirnya kami istirahat di salah satu pondok di Pagang dan kemudian bersiap2 untuk pulang ke Padang.Dikarenakan sudah mau hujan, maka kami harus cepat sampai kembali ke Losmen Carlos. Untuk teman laki2 akhirnya pulang naik banana boat yang ditarik dari boat cepat yang mengangkut para perempuan. Aiihhhh…aku, dwi, muel duduk persis di ujung kapal. Yeeeaayy….sensasi ombak nya ampunnn… plus kehujanan pula.

IMG20140816160548

Sampai di Losmen Carlos dengan kehujanan tapi kami sepertinya terlalu lelah untuk mandi lagi di Losmen itu. Angkot yang menjemput juga sudah menunggu, maka kami langsung cuzzzz pulang ke padang. Diam seribu bahasa di dalam angkot, menikmati kelelahan hari ini.

JeLajah Air Terjun Nyarai Sumatera Barat

Well…sejak 2010 saya menetap di Sumatera Barat, salah satu propinsi yang kaya dengan wisata alamnya. Sebagai jombloers sejati (waktu itu), aku dan teman2 kantor sesama perantau selalu mencari tempat baru yg belum pernah dikunjungi sama sekali.

Sampai suatu hari, salah satu temen kantor memposting foto air terjun di akun instagramnya. 1 kata…wowwww…sumpah keren banget. Baru kali ini lihat yang begituan. Namanya air terjun Nyarai. Penasaran? Pasti..

Setelah cari info dan googling tentang air terjun itu, diketahui lokasi air terjun itu di daerah Lubuk Alung. Sekitar 1 jam perjalanan dari padang. Eh tapi bukan berhenti di  Kota Lubuk Alung saja, tapi masuk lagi ke dalam (belok kanan kalau dari  arah padang) sebelum persimpangan Pariaman. Dari simpang itu ke pos air terjun sekitar 30-45 menit lagi. Lumayan melelahkan..

Personil penjelajah kali ini ada 9 orang (aku, dwi, siska, maya, muel, dame,mangantar,adry, n caca alias franky). Untuk menuju ke lokasi, kami menyewa 1 mobil inova beserta supirnya yg kebetulan baik banget (contact si bapak ada di dwi..maaf). Berangkat dari kost itu jam 7 pagi, molor sejam dari perjanjian awal jam 6 pagi. Pagi banget kah? Iya..karena menurut informasi, untuk tracking ke nyarai itu lebih baik pagi hari, selain tidak terlalu lelah di perjalanan juga tidak terlalu ramai pengunjung.  9 orang muat di mobil? Tentu tidak.. karna mangatar dan franky menyusul menggunakan sepeda motor alias kereta kalau cakap orang medan. Sampai di Lokasi sekitar pukul 8.30 wib dan kami sarapan dulu.

Kami memutuskan untuk sarapan di depan pos tracking Nyarai. Makan seadanya dengan menu nasi padang. Tp gak recommended sih dari segi kebersihan. Berhubung tidak ada pilihan lain, ya sudahlah. Lebih baik bawa bekal sendiri karena lebih aman dan bersih.

Setelah selesai sarapan dan personil sudah lengkap, kami berjalan skitar 50 meter menuju pos jaga. Biaya yang dikeluarkan Rp.20.000/orang sudah termasuk guide yang akan menemani kita sampai ke air terjun Nyarai. Rute yang dilalui cukup melelahkan sekitar ± 3 kilometer dengan durasi waktu ±3 jam plus istirahat di perjalanan.

Perjalanan dimulai dan yang menjadi guide untuk kelompok kami saat itu namanya Fahri, anak laki2 kelas 3 smp (Ngarep yang ngguide ganteng). Masing-masing kami menenteng tas ransel dengan bawaan beraneka ragam. Tentunya masi dengan semangat 45 yang membara.

IMG_61932587741933

Setelah beberapa menit perjalanan tampaknya kami mulai kelelahan. Semakin ke dalam hutan, lebar jalanan pun semakin kecil. Kami pun mulai menyusuri jalan setapak demi setapak. Akar-akar pohon besar yang sudah tua terkadang jadi pegangan supaya gak terjatuh dikarenakan jalanan yang cukup licin hari itu. Masing-masing kami sibuk mencari tongkat-tongkat kayu yang cukup kokoh untuk menahan berat badan kami yang besar ini. Malah ada yang rebutan untuk mendapatkan 1 tongkat kayu yang kekuatan kayunya lebih dari yang lain. Hahahah.. *lebay.

IMG_61927334209779

IMG_61883265594010

IMG_61869483330318

IMG_61915718681395

Rute tracking lumayan menguras keringat. Buktinya rambut kami semua sudah basah dengan keringat seperti orang yang baru saja mandi, tetapi tidak ada wangi-wanginya. Hmm.. Setelah melewati beberapa jalan berliku dan berbatu, akhirnya pandangan aq mulai penuh dengan bintang-bintang. Yah..saya butuh istirahat. Melihat perjalanan yang bersisa 2 jam lagi, sepertinya tidak mampu. Tapi kalau harus balik lagi ke awal rasanya cemen skali. Setelah duduk beberapa lama dan meminum sebotol air teh kemasan akhirnya aku dan teman2 melanjutkan perjalanan. Special thanks to dedek fahry yang udah bawain tas aku sepanjang perjalanan. *cupcup muachh muachh…

Setelah melewati jalanan yang naik turun, berliku dan licin, tibalah kami di sungai pertama. Yah seperti orang yang tidak pernah melihat aliran sungai, aku dan teman2 menjerit kegirangan.

IMG_61856997110702

Setelah berfoto-foto dan beristirahat beberapa saat, kami melanjutkan perjalanan kembali. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan makam lama. Enggak tahu itu makam siapa, tapi sepertinya makam yang sudah lama ada disitu. Perjalanan pun dilanjutkan dengan satu impian ingin melihat air terjun nyarai yang indah itu. Beberapa jam berlalu, ratusan langkah kaki telah berbekas di tanah, akhirnya sampailah kami di air terjun nyarai. Luar biasa..

IMG_20141103_192629

Air terjun Nyarai terdiri dari batu yang memiliki bentuk yang unik. Terdapat lubang-lubang yang menambah keindahan dari air terjun nyarai tersebut. Kedalaman air terbagi atas 3 bagian. Kejernihan air yang berwarna kehijauan menambah indah air terjun ini. Batu-batu sungai terlihat jernih menghiasi dasar air terjun ini. Kami diperbolehkan untuk menikmati dinginnya air terjun ini dengan syarat mampu berenang dengan baik. Apabila tidak bisa berenang, kita dapat menyewa baju pelampung di pinggiran air terjun dengan biaya Rp.10.000/pelampung. Sebelum menikmati dinginnya air, kami makan siang terlebih dahulu dengan bekal yang kami bawa masing-masing. Kebetulan aku membawa bekal sendiri dari rumah, sedangkan teman-teman yang lain membeli bekal di tempat sarapan tadi. Setelah menyewa pelampung, kami mulai menceburkan diri ke bagian kolam yang rendah. Airnya benar2 dingin tapi tidak menyurutkan niat kami untuk tetap bermain disana.

10 menit kemudian hujan pun turun. Penjaga air terjun nyarai menyuruh kami naik dari kolam dan menyuruh kami untuk naik ke pos terakhir sekitar 500 meter dari air terjun. “untuk mengantisipasi naiknya air dikarenakan hujan”, ujar si penjaga air terjun. Sebagai orang awam, aku dan teman2 tentu saja menurut. Sedikit kecewa karena hanya 10 menit menikmati keindahan dan sejuknya air terjun itu.

Perjalanan kami kembali ke pos terakhir sebelum air terjun ditemani hujan deras. Sialnya aku tidak membawa plastik untuk menyimpan handphone. Setengah jam kemudian kami sampai di pos terakhir dengan baju basah dan tas yang basah, terlebih aku dengan handphone yang rusak. Akhirnya kami menunggu hujan reda di pos terakhir yang ada di tepi sungai.

Sejam kami menunggu akhirnya hujan reda. Tetapi pengunjung lain sudah sangat ramai untuk menuju air terjun nyarai tersebut. Sepertinya niat kami untuk kesana pun sudah hilang dan kami memutuskan untuk mencari sungai lain yang sepi untuk tempat bermain.

Fahry sang guide kecil kemudian mengajak kami ke salah satu aliran sungai yang sepi. Untuk melepaskan rasa kecewa kami, maka akhirnya kami bermain di sungai itu selama beberapa jam. Setelah selesai bermain dan menjemur diri di teriknya matahari, kami pun kembali berjalan pulang agar tidak kesorean sampai di Pos awal dan segera pulang ke Padang.

IMG_61774836240549IMG_61954148653625IMG_61520176375318IMG_61751838106241

Our trip… Yogyakarta (Latepost)

Iyeeyy.. Yogyakarta. Dari dulu ya kepengen banget ke Kota ini. Kota yang katanya romantis banget. Akhirnya terwujudkan dengan acara nikahannya mbak Uplah yang emang asli warga Yogya.

Personil yang ikut ya temen kantor juga. Sekitar 7 orang yang temen2 kantor juga (Aq, Suci, Dwi, Sammy, Lanna, Lia, Ledi) sepakat mau jalan ke Yogya. Disamping menghadiri pernikahan mbak Uplah sekalian menjalani kota yang katanya romantis itu (bagi aq..hedeuh).

Petualangan di mulai dengan nyari tiket murah. Walaupun kami sudah bekerja, tetapi sebagai anak perantau tetap aja tiket murah menjadi semboyan hidup. Kebetulan kami punya temen yang jadi agen tiket namanya Lemuel. Sehingga memanfaatkan muel sebagai mesin pencari tiket. Ketemulah tiket murah Batavia untuk tanggal 17 Maret 2013.

Kabar buruk pun terjadi, maskapai Batavia secara mendadak menutup penerbangan dan bangkrut. Bagaimana uang kami? Bagaimana perjalanan ini? Gagal? hahahha…tidak la yaw.

Benernya yang rugi itu muel, bukan kami. Hehehhe…akhirnya dengan kekuatan bulan nyari2 tiket sana sini, cari info tentang penerbangan batavia yang dibatalkan itu. Ketemulah dengan tiger airways yang siap menampung kami tanggal 16 malam pukul 21.30 wib dari Padang ke Jakarta. Melanjutkan perjalanan ke Yogya menggunakan maskapai Air Asia jam 5 pagi. Terimakasih!!

Petualangan di mulai dari pulang kantor tanggal 16 Maret dan sedikit terjadi insiden telatt nyampe bandara. Setelah itu naik pesawat jam 21.30 wib dengan keseraman2 yang dalam pesawat. Iyah baru pertama sih ya naik pesawat malam, apalagi semalam itu. Kebetulan kami duduk paling belakang dengan suara mesin pesawat yang buat kami berpandang-pandangan. Turbulance2 mendadak yang buat aku narik2 tangan lia yang asik tidur persis di sebelah aku.

Setelah penerbangan yang cukup menegangkan, akhirnya kami sampai di Bandara Soekarno Hatta jam 11 malam dengan kondisi mata mengantuk dan pastinya kelaparan. Sebagai informasi, kami ini ya backpackeran gak jelas dan sedikit ngasal dengan barang bawaan yang lumayan banyak.

Tiger airways ini parkirnya di terminal 3. Setelah celingak celinguk kesana kemari akhirnya merapatkan badan makan mie ayam. Tapi apa ya namanya aku lupa..soalnya hanya kafe itu doang yang buka sampe jam 12 malem. Setelah pesan makan dan tidur2an gak jelas, agak malu juga sama yang jualan. AKhirnya kami pergi deh dari situ cari tempat untuk tidur menunggu penerbangan pagi. Lihat kanan kiri, semua sofa sudah dihuni oleh orang2 seperti kami. Mungkin kami kalah cepat kali ya.

ide terlintas…ahaaa…nyari mushola. Tapi baiklah, mushola jg sudah penuh dan yang pasti dingin banget. Gatau berapa derajat celcius, tapi mungkin kami tinggal menunggu salju turun (lebay). Benernya gengsi sih ya, tapi ngeliat para bule2 sekalian bergelimpangan kayak ikan rebus di lantai, kok ya jadi hmmm…. Baiklah, pilihan terakhir, kami gelar lapak sendiri di sekitar lantai counter jualan pakaian yang udah tutup jam 1 pagi itu. Badan beralaskan karpet bandara, kepala beralaskan tas pakaian masing2. Persis transmigran gelap yang menunggu kberangkatan. Gak kebayang kalau ketemu orang atau keluarga yang kami kenal (tapi ngga mungkin juga jam segitu ada yg lewat).

Setelah tidur sekitar 1 jam, dan melihat suci yang cekakak cekikik sendiri dengan sammy, akhirnya kami terbangun jam 3 pagi. Sumpah…dingin bangettttttt. Liat kanan kiri ternyata dwi n Lia menghilang, hoaahmm..akhirnya pada beres2in tas n pergi beranjak dari situ. Sebenarnya keadaan sekitar situ udah lumayan banyak yang lalu lalang, ketakutan kalau tokonya buka dan kami diusir.

Setelah puter2 cari Lia dan Dwi, akhirnya kami kembali membodoh dengan muka ngantuk di pinggiran lantai bandara sekalian nunggu check in Air Asia yang buka jam /5 pagi. Udah lama antri, ternyata ada check in online ya. Baiklaaaahhhh..kebodohan terjadi lagi. Setelah check in, masuk ke ruang tunggu dan dapat bangku yang lumayan untuk tiduran.

Menunggu panggilan naik pesawat, suci dan sammy malah pergi ke toilet di lantai 1. Beneran deh udah panggilan terakhir. Hahhaha… udah di detik2 terakhir akhirnya ngeliat mreka lari2 ke ruang tunggu. Yuk terbang lagi, walopun tidur hanya 1 jam dan ngemper di lantai bandara. Yogyakarta… we’re comingggg…