MEDAN di SARANG PENYAMUN

Saat ini, Kota Medan menduduki peringkat pertama sebagai Kota paling tidak aman di Indonesia. Sebagai penduduk tetap kota Medan selama 2 tahun belakangan ini, apabila saya diwawancarai tentang keamanan kota Medan tentunya dengan berapi-api saya nyatakan kota ini sangat mengerikan.Beda sekali dengan kota Medan bertahun-tahun yang lalu. Walaupun dialek keras Medan menghiasi setiap hari, tapi tak begitu dengan tingkah laku penduduknya. Ntahlah apa yang menyebabkan Kota Medan tercinta ini menyandang predikat tersebut. Tapi tentunya kejadian demi kejadian yang mengerikan yang membuat kota ini sangat tidak aman.

Sebut saja rampok, jambret, begal, pembunuhan, premanisme, dll dll. Tak habislah 7 hari 7 malam sangkin sor nya awak bekisah tentang kengerian kota Medan sekarang ini.

Semenjak kembali ke kota ini, saya juga mengutamakan kecurigaan di atas apapun. Ah, lebay ya. Tapi nggak juga. Karna disini baik sikit awak bisa lah dimaenkan orang yakan. Bahkan ketika sedang dalam perjalanan ke kantor saya melihat tulisan stiker yang tertempel di kendaraan roda empat yang tepat lewat di depan saya dengan tulisan demikian, “curiga lah kepada dirimu sendiri seperti kamu mencurigai orang lain disekitarmu”. Kejam yakan. Tapi ya itu..ini Medan bung.

Kenapa sih saya berapi-api sekali membahas ini. Keliatannya sok tau sekali. Bukan sok tau, tapi saya hanyalah salah satu dari sekian banyak warga Medan yang menjadi korban ketidakamanan kota ini. Ah, sudahlah tak usah diceritakan kejadiannya seperti apa. Panjang sekali. Apalagi harus mengulik kejadian pahit itu, ah intinya saya masih geregetan bila mengingat hal tsb. Apalagi yang biasanya saya menyisihkan waktu untuk menulis blog di laptop, sekarang cukup di layar hape 4″ dengan logo apel kegigit. Syukurlah alat komunikasi ini pun tak jadi korban saat itu. Tapi tiap ingat kejadian itu tetap saja “pedihhhhhh jenderal..”. Layaknya bekas luka sayatan secar yg disayat lagi tanpa minum obat cina. Halah apasihhh..

Begal. Baca-baca di koran dan media sosial, pukul 22.00 wib ke atas jangan pernah berani untuk berkendara seorang diri melewati jalan-jalan yang ditetapkan aparat keamanan sebagai jalanan sepi yang penunggunya adalah begal. Bahkan kuntilanak pun tak berani nakut2in si pelaku begal ini.

Korban begal ini sudah sangat banyak. Ada yang meninggal atau bahkan belum sadar dan dirawat di IGD rumah sakit. Miris sekali. Terkutuklah kalian yang kerjaannya menyakiti orang lain.

Sore tadi juga baca berita di media sosial bahwa pelaku begal ada yang dihakimi massa sampai berdarah-darah. Pantaskah untuk kasihan? Ketika mereka merampas sesuatu dari korban mereka tanpa ada rasa kasihan bahkan tak perduli apakah korban mereka mati begitu saja dijalanan dan meninggalkan keluarga yang sedang menanti di rumah.

Kejahatan yang setiap hari muncul menjadikan kami masyarakat kota Medan jadi manusia yang keras hati. Keras dan mensyukuri ketika kematian seseorang itu datang. Sebegitu kejamnya kah kami warga Medan? Tapi lebih kejam mana dari para pelaku kejahatan itu? Oh kan ada aparat keamanan. Yah, kalau memang ada aparat keamanan, bersediakah menjaga keamanan 24 jam agar tidak ada aksi main hakim sendiri.

Ah, saya rindu kota Medan yang dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s