NI LEN vs KANTIN AMAK

Kemarin malam ngiler tekiler-kiler setelah melihat instastory adik ipar yang sedang asik makan nasi goreng jalanan. Alasanny karena penampakannya 95% mirip dengan nasi goreng ni len aka uni len.

Uni len alias ni len adalah nama panggilan penjual nasi goreng di depan kantor saya di Padang dulu. Dengan tempat sangat sederhana, uni len atau lebih nyaman dipanggil ni len ini hampir “merajai”sebagian besar orderan sarapan para karyawan kantor saya dulu.

Menu ni len sebenarnya juga sangat sederhana. Nasi goreng pakai telur dadar, indomie goreng atau indomie rebus dengan pilihan pakai telur atau tidak, minas alias mie dicampur nasi goreng (kebayang la ya gimana menggunungnya porsi menu ini), dan terakhir adalah lotek yang setiap di pesan selalu jawabnya ngga ada.

Kenapa ni len menjadi favorit? Harganya murah. Dengan porsi nanggung-nanggung jambu, ni len menyajikan nasi goreng simple hanya dengan harga Rp.6 ribu saat itu. Kenapa simple? Karna sepertinya resep ni len hanya menggoreng cabai yang sudah diulek lebih dulu, memasukkan nasi putih, seng oseng oseng, tambahkan garam, penyedap dan kecap manis. Oseng-oseng lagi. Selesai sudah. Telurnya di dadar kemudian sesuai dengan pesanan. Nasi goreng disajikan dengan ditutupi telur dadar dan diselipkan sedikit sambel giling dan timun. Tidak lupa menaburi dengan kerupuk merah. Tapi tetap peminatnya banyak lho. Untuk indomie sendiri, ni len juga hanya merebus mie nya dengan air dan sayur. Angkat, letakkan di atas piring, taburi bumbu dan siap disajikan.

Ni len punya nomor ponsel pribadi untuk memudahkan pelanggan memesan jualannya. Walaupun doi kadang angkat telponnya antara dengar ngga dengar. Mending, sebelum nyampe kantor udah telpon ni len. So, ketika sudah menjejakkan kaki di ruangan, makanan sudah tertata rapi di atas meja. Kenapa? Karna ni len kadang-kadang suka lupa sangkin banyaknya pesanan. Dan kalau kita sudah menelepon kedua kalinya, 5 menit kemudia nilen sudah tergopoh-gopoh membawa pesanan.

Tempat jualan ni len termasuk dalam kategori kecil. Hanya 2 bangku panjang berhadapan dengan 1 meja panjang di tengah. Sehingga jika makan di tempat kita harus sedikit geser-geser agar bisa ngletakkin tangan di atas meja.

Metode pembayaran ni len bayar di tempat atau bayar setelah makan apabila makanan diantar ke ruangan. Karna doi bakalan dateng lagi untuk angkat-angkat piring sekalian ngutipin duit makan.

Dalam usahanya, tentu saja ni len punya saingan. Saingan ni len tidak lain dan tidak bukan adalah kantin kantor dengan brand “kantin amak”. Bagi karyawan yang ingin merasakan nasi goreng dan indomie rebus/goreng yang sedikit tidak biasa dengan harga yang mentereng bolehlah untuk pesan di kantin amak. Porsi nasi gorengnya kenyang. Disajikan di atas piring keramik besar berwarna putih. Ada sedikit suiran ayam yang kadang ada kadang tidak. Tentu saja kalau ingin komplit pakai telur dadar harganya mencapai Rp.15 ribu/porsi. Untuk memesan nasi goreng juga harus liat jam. Kadang dipesan jam 8 si nasi goreng bumbunya masih di beli (grrrr..), tapi pada waktu yang tak di duga ketika dipesan jam 7.30 nasi goreng sudah siap diantar. Indomie kantin amak juga berbeda dari biasa. Ada bumbu racikan khusus kantin amak yg buat termehek-mehek ketika memakannya. Kalau request pedas, tak segan-segan kuah indomie pun dibuat merah menyala. Duh jadi ngiler. Untuk seporsi indomie tanpa telur berkisar Rp.10 ribu. Kalau pakai telur tentu lebih mahal. 😝

Kantin amak menganut metode pembayaran-bayar di belakang alias sore hari. Uni nona namanya, merupakan utusan kantin amak yang setiap sore bakalan muncul kayak debt collector untuk mulai menghitung hutang-hutang pesanan makanan para karyawan. Sambil bawa tas pinggang, buku agenda panjang, pena dan kalkulator dan mulai meneror masing-masing karyawan dengan jumlah tagihan yang luar biasa. Mulailah beberapa karyawan iseng tiba-tiba amnesia dan nanyain si uni nona jenis pesanannya apa saja kenapa tagihan bisa membengkak. 😜

Tuh kan ngences lagi 🤤🤤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s