11 JULI 2017

11 Juli 2017

Kalau saja mimi tidak berstatus ibu rumah tangga melainkan bekerja sebagai PNS  atau Pegawai BUMN, mungkin tahun ini mimi akan pensiun. Tapi, pekerjaan mimi ketika masih di dunia adalah ibu rumah tangga dimana pensiunmu hanya Tuhan yang memberikan.

Hari ini tanggal 11 Juli 2017. Hanya berbeda 5 hari dari tanggal dimana orang-orang mengirimkan ucapan selamat ulang tahun padaku melalui media sosial ataupun aplikasi chatting. Tapi, sudah 3 tahun tidak ada lagi ucapan melalui telepon dari nomor seluler mimi yang selalu menghiasi panggilan masuk telepon seluler ku. Tidak mengapa, toh aku tetap mengingat  perjuanganmu melahirkan ku 31 tahun yang lalu tepatnya hari Minggu jam 8 pagi di Klinik Abadi. Entahlah klinik itu masih ada atau tidak saat ini.

Sudah setahun ini aku menetap di Kota ini. Kota kelahiranku, kota dimana mimi membesarkan, memarahi, bahkan menangis sampai jatuh sakit saat aku harus pergi merantau ke propinsi di bagian barat pulau ini. Tapi  sayang, ketika keinginan mimi agar aku kembali ke kota ini, mimi sudah tidak ada. Mimi curang. Kadang aku berpikir, ah apa asiknya kota ini. Kenapa  aku harus memilih kota ini sebagai pilihan domisili dimana alasan kuat ku dulu untuk pindah ke kota  ini sudah tidak ada lagi selamanya. Konyol sekali jika aku masih saja membahas ini. Yah  namanya saja curhat, apalagi di hari ini ketika mengingat hari lahir mimi dan aku yang berdekatan tapi kita tidak bisa lagi saling menyapa dan merayakannya  bersama-sama.

Sore ini aku menyempatkan diri untuk membeli bunga dan berkunjung ke tempat mimi beristirahat. Maaf, dengan kondisiku saat ini aku hanya  bisa melihat tempat itu dari jauh  saja. Dia, yang selalu menemaniku sepeninggalmu  yang turun kesana. Mencabuti rumput-rumput  yang  hampir  menutupi  porselen  tempat mu merebahkan diri. Mengganti bunga lama yang sudah layu kering dengan bunga baru yang aku beli tadi. Sempat  kupesankan kepada perempuan yang menjual bunga, “Pilihkan yang berbeda dari biasa ya  kak,”begitu ucapku. Aku tidak mengatakan ini hari spesialmu, aku hanya ingin melihat warna berbeda menghiasi hunianmu 3 tahun belakangan ini.

Beberapa hari belakangan ini, mimi selalu hadir di mimpiku. Apakah alam bawah  sadarku rindu? Ya, aku rindu. Tapi aku mulai terbiasa. Ketika setiap pagi, aku melewati tempat istirahatmu dengan  sedikit melirik. Melirik apakah bunga-bunga yang menghiasi tempatmu sudah layu kering dan harus segera diganti. Atau sekedar berharap mimi sedang tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku.

Ketika mengingatmu, ada setitik perih. Aku gatau pasti darimana asalnya. Yang kutau letaknya sangat jauh sekali. Di ujung hatiku paling sudut dan tertutup. Aku merasa sudah menutupnya dengan rapi, berisi kenangan ku dari kecil sampai dengan saat mimi ninggalin aku. Tapi dengan  luka nya aku tidak yakin sudah kering atau belum.  Aku tidak ingin mengatakan “Aku sudah ikhlas” karna mengatakan kalimat tersebut hanyalah memperjelas bahwa sebenarnya aku masih belum ikhlas. Ah, biarlah Tuhan yang tau apakah aku sudah ikhlas  atau belum. Tapi kuharap  sudah, karna aku tak ingin melihat mimi sedih disana.

Hujan menemani ku menulis saat ini. Persis dengan mataku yang tiba-tiba kabur karna banyaknya gumpalan air yang akhirnya turun membasahi pipi. Ah cengeng sekali.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s