KOTA PADANG BESERTA ISI NYA

Dapat notif pengingat dari path:


Sudah setahun tidak menginjakkan kaki di Kota Padang. Rumah kedua setelah Kota Medan saat itu. Kota tempat mencari rezeki selama kurang lebih 6 tahun. Dari mulai mengeluh ditempatkan sampai akhirnya bersyukur dan kembali ke daerah asal. Kota dimana menyandang status anak kost pertama kali dalam hidup. Belajar hidup mandiri, harus berani tidur sendiri, kesana kesini sendiri.

Sepertinya banyak terjadi perubahan yang manis setelah meninggalkan kota Padang setahun belakangan. Banyak cafe-cafe apik atau yang sangat ditunggu-tunggu, XXI di Plaza Andalas. Sayangnya setelah 6 tahun disana, saya tak ikut merasakan euforia kekinian itu.

Saya juga merindukan teman-teman saya disana. Walaupun sebagian dari kami sudah kembali ke daerah kelahiran masing-masing, tapi beberapa teman yang penduduk lokal juga tetap mengisi kisah-kisah lucu di hati. Ah, cepat sekali perputaran OJT baru sehingga sudah banyak yang tidak saya kenal lagi di sana.

Bahasa yang saya kuasai selain bahasa Indonesia Medan adalah bahasa Minang. Wajar saja, bertahun-tahun disana membuat saya bertekad untuk fasih bahasa Minang agar dapat berkomunikasi lebih menyatu dengan teman-teman disana. Sehari-hari saya menggunakan bahasa minang yang di campur dengan sedikit bahasa Indonesia. Walaupun sekarang sudah jarang menggunakan bahasa minang, saya harap tetap bisa paham jika ada orang minang mengajak saya berkomunikasi dengan bahasa minang.

Kami para perantau berasal dari berbagai daerah. Tentu dengan bahasa yang berbeda pula. Ada yang tetap keukeuh dengan bahasa daerahnya, ada pula yang sok meresapi bahasa daerah lain seperti saya. Huahahah.. Adalah Mbak Dhany, sosok wanita perantau dari Pulau Jawa yang sekarang sudah kembali ke kampung halamannya. Herannya, ketika kami bertemu (medan vs jawa) kenapa masih berkomunikasi dengan bahasa Minang?

Masa sebelum menikah saya habiskan dengan bahagia bersama teman-teman di Padang. Mulai dari pergi wisata ke berbagai tempat (sumbar memang dikenal dengan wisata alamnya), menggalau sampai ke luar negeri, atau bahkan karokean jejeritan beramai-ramai. Saya ingat ber-backpacker ria dengan para wanita perantau yang menyebut dirinya barbie’s on vacation (nggak penting banget. 😂), menyusun itinerary setiap sore sepulang kerja, dan setelahnya ngebut mengejar nasi goreng di bakso Mas Pepen sebelum jam 7 malam. Atau, saling tuduh menuduh hendak makan malam dimana. Karna tentu saja, pilihan makanan saat itu tidak sebanyak sekarang. Sebut saja mie aceh akbar atau bakso mas pepen. Paling canggih juga ke kios-k, tempat paling oke saat itu.

Kota Padang juga merupakan tempat dimana Nogu menjadi penghuni di dalam rahim saya mulai dari 0 bulan sampai 8,5  bulan. Kehamilan indah yang diisi dengan enaknya beras solok dan nasi padang talago biru. Dan disegarkan dengan pepaya manis yang saya beli tiap sore di pasar raya. Hanya di kota padang saya membeli pepaya 3 buah ukuran besar dengan harga hanya Rp 10.000 apalagi karna hari sudah sore.

Suatu hari nanti saya ingin bernapak tilas ke Kota itu. Tempat Tuhan mengajarkan saya tentang kehidupan. Menyusuri tempat-tempat istimewa dimana ada canda tawa lepas dalam kenangannya.

Advertisements

2 thoughts on “KOTA PADANG BESERTA ISI NYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s