UPDATE STATUS

Di jaman serba media sosial sekarang ini, status merupakan salah satu cara berkomunikasi dengan orang lain. Buat status curhat, status apa yang sedang dilakukan, kejadian yang baru daja dialami, dan lain-lain. Tujuannya supaya dikomentarin orang lain. Ada yang ngga setuju? Ciyus bukan untuk dikomentarin? Kalo ngga untuk dikomentarin, jangan buat status di media sosial. Buat aja di dalam hati dan pikiran. Ehem..

Saya juga termasuk dalam kategori orang-orang yang gemar membuat status. Dari jaman friendster sampai sekarang dimana aplikasi media sosial bejubel namanya. Sebut saja bbm, whatsapp, line, facebook, path, instagram, snapchat, dll sebagainya. Terkadang dalam membuat status di media sosial itu dilakukan secara spontan. Tanpa direncanakan dan terlintas begitu saja. Contohnya, saya sedang menunggu seseorang dan cuaca sedang mendung. Langsung saja ambil handphone, buka aplikasi bbm buat status (duh lama banget sih nunggunya, mana mendung lagi..) dan dalam waktu singkat masuklah chat dari beberapa teman yang iseng bertanya. Atau bahkan buruknya tidak ada yang peduli sama sekali.

Hebatnya lagi, aplikasi media sosial sekarang sudah bisa langsung terhubung satu sama lain. Misalnya, saya membuat status di path, bisa langsung link dengan aplikasi fb. Atau, ketika saya upload foto selfie saya di instagram, dapat langsung link  dengan aplikasi facebook. Jadi, tangan saya tidak perlu capek untuk menulis status yang sama persis di masing-masing aplikasi.

Update status itu memang asyik. Kita jadi kelihatan geol margoal. Ketika sedang makan di tempat elite, langsung ambil handphone, minta tulung sama pelayannya untuk fotoin, senyum, cekrekkk..foto selesai. Buka aplikasi medsos, upload foto, update status, jangan lupa check in tempat. Ajegileeee.. keren yak.

Sekali lagi, saya juga termasuk dalam kategori si pengupdate status. Untuk kondisi saya sekarang, topik update status saya pastinya sudah berubah dari tahun-tahun jaman batu dulu. Yang dulunya alay setengah idup dengan tulisan bEsaR kecIL sekarang sudah berubah dengan tulisan normal layaknya manusia lain. Yang dulu nya suka selfie dengan posisi view nya kelihatan dari atas sekarang yah apa adanya saja (sudah mamak-mamak). Yang dulunya suka update status galau hati perasaan berkecamuk jadi satu dalam sebuah mangkok yang disiram kuah bakso, sekarang berubah haluan ke masalah anak-anak dan kemacetan jalanan kota. Yang dulunya kalau cuaca hujan, update status “hujan nih” atau ketika matahari sedang bergerilya langsung update status “duhhh gerah banget..” sekarang lebih ke diemm dan segera angkat jemuran. Masih banyak lagi, lagi dan lagi.

Kadang kita lupa (kita itu termasuk saya di dalamnya) ketika mengupdate status, sangkin asyiknya kita keluarkan semua-mua uneg-uneg dalam hati dan pikiran. Contohnya, ketika sedang marah atau kesal dengan pasangan. Langsung buat status dengan  kebingungan bahasa tingkat tinggi dimana yang mengerti hanyalah pasangan yg bertikai. Sadarkah kalian (termasuk saya) bahwa banyak sekali orang-orang yang membaca status media sosial yang barusan kita tulis. Jawabannya, ah yang tau kan cuma gue. Padahal, ketika orang sedang bertengkar atau jatuh cinta maka emosi yang menyala membuat seseorang tidak sadar dengan tindakan dan perkataannya. Buruknya, orang-orang lain biasanya paham dengan apa yang dilakukannya. Contohnya saja melalui update status. Ah ga mungkin? Buktikan saja ketika tahun depan, trus aplikasi membuat pengingat kejadian tahun lalu atau kamu sekedar iseng baca-baca status yang lalu. Dalam hati..”njir..alay banget gw” atau, “aaahh..pentig banget sih buat beginian dulu.”

Beberapa tahun belakangan, dimana kondisi negeri ini yang sangat gampang dipengaruhi dengan berita-berita hoax dan tinggal klik tombol share maka sudah muncul di timeline. Mikir ngga? Apa bener yang di share itu? Apalagi yang berhubungan dengan membenci satu kelompok. Apa kamu yakin? Atau hanya pengen ikutan tren saja biar dikata kekinian? Atau pengen terlihat empati dengan kejadian saat ini tanpa perduli itu benar atau tidak? Saya punya teman, dia selalu membagikan berita-berita hoax di timeline nya. Tanpa perduli itu benar atau tidak. Ditambah dengan update status yang entah dia dapat dari siapa tapi tentunya bersifat provokasi. Ketika orang lain bertanya tentang kebenaran isi berita tsb dia hanya cuek dan berpasrah diri kalau menyatakan itu benar. Ah, terkadang kebencian akan sesuatu memang sangat menutup rapat mata dan hati seseorang. Tanpa perduli itu benar atau salah, padahal dia sangat takut akan dosa.

Pelajaran juga untuk diri sendiri.Tidak ada yang salah dengan update status. Tapi lakukanlah dengan bijak. Berikanlah informasi yang bermanfaat bagi orang lain. Jauhkan lah menceritakan isi hati dan pikiran mu secara menggebu-gebu karna orang lain dapat menilai bagaimana kamu.

So, update status dulu ahh 😁

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s