Ucapkan: “AKU MENCINTAIMU KARENA TUHAN”

Pagi ini saya menghadiri kebaktian kantor yang rutin diadakan setiap dua minggu sekali. Pastinya ada khotbah di setiap kebaktian dan khotbah kali ini membuat saya mengetahui arti dari mencintai yang sering diucapkan orang-orang di media sosial. Apa itu? Kalimat ini, aku mencintai mu karna Tuhan. Pernah dengar? Pernah donk, masa sih ngga pernah. Ah belum pernah? Ciyus? Sudah..buat facebook dulu sana.Celoteh saya kali ini bukan berlandaskan agama atau apapun yang berhubungan dengan SARA. Tapi kebetulan karna ini dapatnya dari khotbah bapak Pendeta, tapi ini benar-benar umum untuk siapa aja. Ciyus?

Sabar dan pengendalian diri. Itu topik yang di bahas pagi ini. Dengan duduk manis saya mencoba mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan si Bapak. Ciri khas intonasi suara ala pendeta yang naik turun halus kasar (kayak jaman belajar nulis di SD dulu) buat saya agak terbuai-buai mendengarnya (ini lebay..!)

Sabar, menjadi seorang yang sabar itu bukan hal mudah. Kenapa? Karna dengan sabar berarti mengajarkan kita harus pandai bersyukur. Bersyukur dalam keadaan apapun, baik suka maupun duka, sakit maupun sehat, untung maupun malang (kayak janji nikah..heheh).

Pengendalian diri, mengendalikan maunya kita. Mau rohani ataupun mau jasmani. Ribet ngartikannya? Gini deh, kamu menderita asam urat akut. Tapi kamu cinta banget dengan makanan seafood. Tapi..ada tapi nya lagi. Tapi, kamu gamau sakit. Apa ngga kepengen ditampol pake es batu, coba? Padahal, asam urat kamu bakalan kambuh kalau kamu makan makanan yang mengandung seafood dan buruknya kamu sadar banget tentang itu. Tapi kamu tetap ngeyel,ngeyel dan ngeyel. Tandanya apa? Tandanya kamu belum bisa mengendalikan diri, ngendaliin selera,ngendaliin perut, dan smua hal yang berbau dengan mengendalikan. So, paham donk? Pahamlah..

Sabar dan pengendalian diri jika ditarik dalam suatu hubungan antar manusia misalnya Suami dan istri, orangtua dan anak, atau pacaran bagi kalian yang masih muda (walaupun mending langsung nikah aja lho, ciyus deh. *kan ciyus lagi) itu sangat penting dalam menciptakan hubungan yang harmonis dan serasi. Ah, serasa belajar PPKN.

Semua juga tau, ngga ada manusia yang sempurna. Aku, atau kamu yang lagi baca ini. Atau siapapun di luar sana, justin bieber, taylor swift, atau bahkan saipul jamil sekalipun. Semua punya kelebihan ataupun kekurangannya masing-masing. Bisa jadi kekurangan si justin bieber bisa membuat si unyil jatuh cinta atau sebaliknya kelebihan si saipul jamil malah membuat si uprit kejang-kejang ngeliatnya. Tapi, apabila akhirnya si unyil dan si uprit sudah menikah, maka mereka berdua harus saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Sekarang pertanyaannya, unyil dan uprit tadi sarapan apa? Ah sudahlah, malah ngga karu-karuan.

Kayaknya lebih asyik ambil contoh itu suami dan istri atau orangtua dan anak dibanding dengan pacaran. Bukan karna ngga pernah muda tapi “feel”nya lebih dapet aja dibanding yang masih pacaran. *ampuuunnn dijeee..*

Lanjut.

Suami dan istri adalah satu kesatuan. Buruknya suami adalah buruknya istri dan begitu sebaliknya. Baiknya suami tentunya adalah baiknya istri dan begitu juga sebaliknya. Kamu lelaki..yakkk..kamu, siapa yang ga mau punya istri mirip isyana sarasvati? Atau kamu yang perempuan, siapa yang ga pengen punya suami secakep christian sugiono. Trus mapan, setia ah dunia milik kalian. Sudah..sudah. Trus, mencintai suami/istri yang sudah punya kelebihan sesuai mau kita sbagai manusia normal apa masih butuh Tuhan?

Next, orangtua yang bijaksana, No cerewet dalam kamus hidupnya, mapan, royal dengan anak, blablabla..dambaan semua anak? Apakah masih butuh Tuhan untuk mengasihinya?

Sama hal nya dengan anak. Anak yg pintar,cantik, baik budi, lemah lembut dambaan semua orang tua. Butuh Tuhan ngga untuk mencintai anak seperti itu. Ini opini saya dan jawabannya adalah TIDAK. Tidak butuh Tuhan untuk mencintai mereka yang yang disebut di atas tadi.Mau protes? Simpen protes lo dan tulis di lapak sendiri. Huahahahaha…

Kenapa jawabannya TIDAK butuh Tuhan untuk mencintai tipe-tipe suami/istri, orangtua dan anak yang saya sebutkan tadi? Karna itu harapan semua orang. Sosok sempurna yang hanya diciptakan oleh namanya pikiran. Sesosok yang ada di dunia nyata tapi hanya bisa ditonton di televisi. Judulnya? Ah, cari saja sendiri.

Ngga butuh perjuangan untuk mencintai mereka yang sempurna sesuai pikiran manusia. Sesuai pikiran manusia lho ya. Tapi kalau yang saya sebutkan di atas tidak menjadi harapan kamu ya ngga usah merengut juga. Santai ajah..karna ente lagi jalan-jalan di lapak aye.

Dan, ternyata kenyataan yang kita lihat dari sifat dan karakter suami/istri, orangtua dan anak jauh berbeda dari harapan “sempurna”. Awalnya yaudalah ya, namanya juga cinta. Gak bisa dipungkiri, hari demi hari bulan demi bulan dan tahun berlalu ada rasa “ahh..aku jenuh”. Hati kamu pada bilang,”ah, yg nulis curhat nih.”

Curcol (biar pada puas loo..), tapi ngga murni tentang aye juga sih, ini di mix dengan apa yang saya dengar dan saya lihat dari lingkungan sekitar. Yaiyalah, emang papa Nogu sempurna. Kagakkk..kagak banget. Karakter yang beda banget dengan saya yg suka grasak grusuk gak jelas. Papa Nogu tuh type yang slow motion. Dan saya tuh fast n furious. Papa Nogu diimpor langsung dari Pulau Jawa yang aksen ngomongnya masih medok. Disandingkan dengan saya yang aksen ngomong batak melayu agak campur padang dikit. *nasi kali dicampur-campur. Trus, menurut ngana piye? *sekiAn nggosipin papa Nogu -.-

Lanjutt,

para suami/istri di luar sana dengan masalah yang beragam. Si suami suka begini, istri suka begitu. Suami suka pake jenggot, si istri suka pakai kumis. Eh salah..

Suami yang pendiem dan istri yang nyinyir. Suami yang kerjanya pas-pasan dan istri menjaga anak di rumah saja. Setiap orang pasti memiliki masalah masing-masing.

Kemudian, Anak. Siapa yang ngga ingin punya anak. Sudah diberi anak, Lalu request anak yang bagaimana? Atau sudah diberi kepercayaan diberi berkat dalam rahim, masih berkata “aku ingin yang laki-laki. Ah, aku gamau yang perempuan. Jangan sampai deh perempuan lagi atau gamau ah yang laki-laki lagi, dan sebagainya-dan sebagainya.

Di luaran sana juga saya melihat kondisi ketika anaknya aktifnya melebihi anak lain, si ibu langsung mencubit si anak untuk segera diam. Atau yang paling sering adalah memarahi anak apabila tidak mendapatkan rangking di sekolah. Belum lagi jika melihat anak tetangga atau anak saudara yang “lebih” dibanding anak sendiri. “Ow..anak saya masuk sma favorit lho. Hei..anak saya jago main piano nya.” Ah, hati ini rasa terbakar sambil bilang, “awas ntar si xxx di rumah. Masa ngga bisa masuk sma favorit kayak anak si bapak fulan.” Itu misalnyaaaa…

Belum lagi ternyata prestasi anak masuk dalam kategori pas-pasan di kelasnya. Walaupun si anak sudah keriting bilangin ke orangtua bahwa dia ngga suka matematika. Si anak sukanya menggambar. Tapi supaya terlihat keren di mata orang lain, maka seorang anak diwajibkan mengerti matematika dan ngga peduli meski si anak sudah acak adut belajarnya. Jadilah si anak malas belajar, nilai rendah, dan rasanya pengen ngjewer takewer kewer.

Mencintai type yang seperti itu? Mungkin? Bukan cuma mungkin, tapi BISA. Bagaimana mencintai mereka yang seperti itu? Tuhan harus ikut campur tangan dalam mencintai mereka yang “tidak sempurna” menurut pemikiran kita.Karna Tuhan menganugerahkan suami/istri, orangtua dan anak dengan ragam karakter dalam kehidupan kita. Ada rencana? Pasti. Ngga ada yang terjadi tanpa maunya Tuhan. Nyesel punya mereka? Ah..jempol tangan arah ke bawah sama kamu. Cintailah mereka. Mereka melatih mu untuk menjadi manusia yang lebih baik. Lebih mengatur emosi alias sabar. Lebih mampu mengendalikan diri. Tanpa campur tangan Tuhan itu semua ngga mungkin bisa terjadi.

So, nikmati yang ada. Stop membandingkan apa yang kamu punya dengan orang lain. Syukuri yang sudah kamu miliki, baik istri/suami, orangtua, anak. Cintai mereka. Ucapkan cinta mu kepada mereka setiap hari, selagi mereka ada.

Berbahagialah 😘

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s