Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah

Pepatah kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Benar ngga? Benar sih.. Beberapa hari belakangan ada beberapa peristiwa yang buat aku ingat dengan pepatah ini. Seseorang yang aku kenal lumayan baik (gausa sebut nama) sebut aja dia “mawar” kelihatan sedang bermasalah dengan beberapa anggota keluarganya.

Gerak-gerik yang kelihatan tampaknya doi sedang galau. Tapi, daripada ngepoin urusan orang lain mending ya ngurus diri sendiri aja. Kesimpulan dari gerak-geriknya si mawar ini jadi lebih pendiam, lebih suka sendiri, suka cemberut ngga jelas, dll. Mungkin lah masalah finansial pikir ku dalam hati.

Selang beberapa hari akhirnya aku tau kalo yang buat doi galau adalah masalah yang namanya cinta dan lelaki. Kelihatannya keluarga mawar ngga setuĵu dengan pilihan hati mawar yang menurut aku juga kayaknya kurang baik. Hal-hal yang bersifat prinsip yang buat keluarga mawar gak setuju. Yah selain faktor-faktor lain yang kelihatannya lelaki itu kalau dikasi nilai di raport, nilainya merah semua. Blum bisa naik kelas lah istilahnya.

Singkat kata, terakhir sekali bertemu mawar dia ngga menunjukkan gelagat apa-apa sampai akhirnya mawar menghilang pada sore hari tanpa memberi kabar kepada keluarganya. Tentulah keluarga mawar panik dan lelaki itu pastilah jadi tersangka utama walaupun ntah benar atau tidak mawar melakukan itu bersama dengan lelaki si rapor merah.

Siapa yang paling menangis? Tentunya ibu mawar yang sudah lanjut usia. Mendapati anak gadisnya pergi meninggalkan dia hanya dengan pesan maaf di secarik kertas binder dengan tulisan maaf bak puisi pujangga. Sang ibu ingat dengan mawar kecil yang selalu bergantung pada dirinya, si mawar kecil yang tidak pernah melàwan apa kata ibunya, atau amarah ibunya memperingatkan mawar untuk tetap berada pada jalur yang pastinya untuk kebaikan mawar sendiri (menurut ibunya).

Tapi kenyataanya mawar lebih memilih jalan hidupnya sendiri. Melupakan kasih sayang ibunya dan lebih memilih untuk hidup dengan pendiriannya. Salah? Enggak sih menurut aku, setiap orang bebas menentukan pilihan hidupnya masing-masing. Tapi mungkin lebih bijak dengan tidak melupakan dan selalu mengasihi orangtua khususnya perempuan yang dipanggil “ibu”.

Ciyus ini bukan sinetron atau cerpen. Mungkin mawar hanya membuat kisahnya mirip dengan sinetron atau cerpen.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s