Self Reminder: Natal itu…

Bulan Desember identik dengan Perayaan Natal. Seluruh gereja di semua pelosok daerah pasti merayakan Perayaan-perayaan Natal yang dimulai dari tanggal 1 Desember – 22 Desember. 23 Desember biasanya Natal Keluarga dan disambung Malam Natal di 24 Desember. Puncaknya jelas tanggal 25 Desember semua khalayak berkumpul untuk merayakan hari besar tersebut.

Aku adalah seorang yang merayakan Natal sebagai hari besar dimana menurutku pribadi, Natal tersebut memperingati lahirnya Sang Juru Selamat ke dunia untuk menebus dosa semua manusia. (Mungkin pemahaman setiap orang berbeda, tapi ini adalah kepercayaan aku so selagi nggak ngusik elo ya jangan usik pemahaman gue gitu. Heheheh..). Bukan definisi yang aku bahas hari ini. Masalah kepercayaan, tentunya ada di tangan masing-masing individu ya. Apalagi di jaman semua orang suka merasa benar dengan pemahaman yang diyakininya dan menyerang dengan akun-akun palsu geje tanpa ucapan yang bisa dipertanggungjawabkan. Ahaiii..

Setelah bertahun-tahun, entah kenapa beberapa hari ini tergelitik ketika melihat posting-posting foto yang ada di medsos. Kenapa tergelitik, mungkin pengaruh janin kecil dalam perut juga ikutan gelitik-gelitik tulang rusuk saat liat-liat medsos. Apalah..

Entah angin apa yang lagi lewat, trus tiba-tiba kepikiran sendiri. Apasih Natal itu sesungguhnya? Apa harus dituntut harus pakai kebaya, sexy dress dan makeup+hair style yang aduhai? Bukannya Tuhan Yesus itu datang lahirnya hanya di kandang domba. Piye kalau misalnya udah dandan abis-abisan trus ujan, trus kebasahan, semua baju, makeup, rambutnya pada basah kuyup. Apa masih pengen ngerayain natal yang udah direncanain? Masih konsen nggak untuk ikutin perayaan Natal dari awal sampai akhir? Trus, kalau udah dandan kece, tetiba di jalan ada orang tabrakan yang membutuhkan pertolongan banget, apa rela ngga jadi datang perayaan Natal demi nyelamatin orang yang butuh pertolongan tsb? Jujur, mungkin aku salah satu yang euforia sendiri dengan perayaan Natal. Tapi sampai kapan diri sendiri ini harus pura-pura lupa dengan makna Natal yang sesungguhnya. (Tabok kepala sendiri)

Self Reminder: Natal ngga harus selalu dengan baju bagus, perayaan mewah, makanan enak, haha hihi bareng temen-temen, pamer aksesoris or apapun,tapi yang terpenting adalah gimana hati kita bener-bener tulus untuk ngerti tentang arti dari perayaan yang sedang kita hadiri. So, ngga bole pake baju bagus gitu? Ngga bole mewah-mewahan?? Eh, ngga bilang gitu juga. Tiap orang kan punya hak untuk memakai barang-barang yang telah dibeli sesuai dengan hasil kerja nya masing-masing, n keputusan tiap orang juga untuk memakai itu kapan dan dimana dalam perayaan apa. Tapi yah lebih indah lagi kalau fokusnya bukan untuk kelihatan cantik di luar, karna yang terpenting adalah hati yang meresapi arti kelahiran sang Juru Selamat. Pandang sekeliling begitu banyaknya orang-orang yang nggak seberuntung kita bisa merayakan Natal di gedung yang bagus, hotel mahal, dll. Yahh..inti dari kecomelan hari ini adalah ingatlah inti dari Natal itu sendiri, bukan persiapan luar dari Natal yang hanya terlihat bagus untuk mata manusia.

Sekian. Jangan protes. Kalau mau protes, buat blog sendiri. Huehehehehe…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s