Ungkit itu virus yang menjangkit hati

Di siang hari yang terik ini, ruangan SDM ini masih aja terasa panas. AC nyala, kipas-kipas karton juga udah goyang geol kanan kiri, tapi teteup aja ngga ngaruh apa-apa.

Sambil buka-buka berita masa kini, terbaca lah salah satu berita yang lagi hot-hot pop saat ini. Beritanya tentang si MJ wid Suaminya AD Suaminya belum ya? Sudahlah ya, walaupun belum sah menurut gosip beredar.

Sebagai pengikut infotaiment dalam negeri, pasti pada tau kalau baru-baru ini si mbak MJ curhat sama salah satu mentalist DC tentang kisruh permasalahannya yang dari dulu-dulu-dulu dengan mantan istrinya si AD. Ntah apa yang mendasari niat si mbak ini, tetapi menurut aku sih (aku lo ya) mungkin doi agak tertekan dengan hujatan-hujatan para haters yang tiap ari selalu ngposting n ungkit-ungkit kesalahan doi kepada mantan istri suaminya itu. (Kok tau? Yaiyesla, aku kan salah satu pemerhati media haters doi. Huahahahah..). Kenapa bisa tertekan? Yah mungkin awalnya doi coba cuek kali ya dengan tingkah polah nya yang pasti menurut 90% masyarakat Indonesia dy adalah penyebab rusaknya rumah tangga si suami dan mantan istrinya. Tapi namanya juga manusia, punya hati, punya perasaan, secuek-cueknya pastilah ada rasa sedih, marah, dengan semua tudingan-tudingan yang ditujukan orang ke doi. Trus salah kah para haters menuding? Yah ngga salah juga, secara doi public figure yang setiap tampilannya “dulu” selalu menjadi perhatian seluruh masyarakat, dan dengan gamblangnya terjadi bla-bla-bla-bla yang menyebabkan orang lain bercerai, trus doi tetiba hamidun n jadi pasangan si mas AD tersebut. Trus dy salah? Yahh…salah sih. Kenapa ngga dari dulu mikir bahwasanya mencintai suami teman sendiri itu “Haram” hukumnya. Tapi ya namanya cinta dan takdir, emang udah ditentukan jalannya sama yang Maha Kuasa. Biar dijadikan jalan cerita hidup masing-masing orang, jadi pelajaran hidup juga bagi orang lain.

Next, ternyata si Mas AD yang katanya mau mensomasi si pembawa acara DC malah ternyata ikut-ikutan curhat tentang masa lalunya. Hmm..mungkin lebih ke Ungkit ya. Diungkit diungkit dan diungkit. Baca di salah satu media online yang terkenal di Indonesia, si Mas AD mulai mengungkit awal perceraiannya, kenapa bercerai, si ini begini, si itu begitu, kenapa begini, kenapa begitu. Padahal, semua masyarakat juga tau itu kejadian sudah bertahun-tahun yang lalu.

So, gimana kondisi si mantan istri? Sepertinya dia baik-baik saja, sesuai dengan salah satu judul lagunya. Yah, selama ini si mantan istri terdengar adem ayem saja, tidak mengurusi, tidak mencampuri, dan cukup bahagia dengan kehidupannya. Itu yang terbaca di media, terlebih banyak banget masyarakat yang bersimpati kepada si mantan istri atas peristiwa pengkhianatan yang dialaminya (menurut masyarakat). Tapi apa reaksinya setelah diganggu “lagi” padahal tidak mengganggu?

Disitulah terkadang si ungkit-ungkit ini punya peranan penting memanaskan hati dalam kondisi yang sedang panas ini. Beberapa inisial di atas mungkin hanya sebagai kisah contoh aja ya. Bukan bermaksud menghakimi mereka yang disebut inisial di atas karena semua orang kan punya hak untuk mengambil resiko dalam masalah nya masing-masing. Tapi, yang si ungkit-ungkit tadi itu jadi peran utama dalam masalah yang dijabarkan di atas. Bukannya dengan mengungkit membuktikan kalau sebenarnya ada “virus hati” yang sedang menjangkit ya?

Oiya, kemaren juga aku nerima sms dari seorang teman yang salah satu menu kesukaannya adalah ungkit-ungkit. Padahal sudah beberapa bulan belakangan aku sengaja membatasi komunikasi dengan dia karena favoritnya mengungkit-ungkit-ungkit. Sebenarnya sebagai teman yang sudah lama membina hubungan, sudah beratus ribu kali dinasehati supaya jangan terlalu suka dengan menu ungkit-ungkit tersebut. Nasehatin dalam bentuk apa? Bentuk kasar, halus pun juga. Kadang kalau kasar tak di dengar, mencoba untuk halus, lama-lama ya sudah tak terdengar lagi nasehat itu. (Kebalik ya, halus dulu apa kasar sih?) Intinya, membatasi komunikasi saat ini lebih ke arah efek “kapok” kepada si teman sebagai pelaku ungkit-ungkit. Kembali ke sms yang aku terima, setelah beberapa lama  dy berhenti mengganggu dan mengungkit (dy agak jera karna di hardik suami), doi sms ucapin beberapa ucapan yang berkesan untuk bulan ini, kayak: selamat ultah pernikahan or sekedar selamat Natal. Yah, walaupun masih rada-rada pengen kasi pelajaran “kapok” yang baik dan benar, tapi kayaknya kok ngga manusiawi kalau tidak membalas sms dy yang bermaksud baik (menurut aku) dengan sekedar mengucapkan terima kasih. Tapi oh tetapi…hiks, sms tadi malam yang aku terima masih lagi lagi lagi lagi mengungkit permasalahan dy dengan teman-temannya yang aku gatau udah terjadi kapan, dimana dan tahun berapa. Aku juga gatau, gamau tau dan gak perlu tau. Dan, masih juga cerita ke aku aku aku. Sama ngga sih dengan kisah si public figure di atas.

Kenapa aku juga lama-lama kapok dengar curhatnya? Apa aku bukan teman yang baik? Apakah dengan tidak meladeni adalah teman yang jahat? Sudah diladeni, sudah dinasehati tapi tidak didengar, so what? Gue harus koprol jejeritan gitu. Mungkin aksi diam bisa membuat kapok. Btw dy kapok ngga? Ntahlah, aku kira juga sudah, eh tapi sms tadi malam membuktikan doi masih nyimpan perkakas-perkakas ungkitnya untuk dikeluarkan pada saat yang tepat. Kadang kita sebagai orang yang dicurhati jadi bingung apakah ini benar atau nggak. Hanya mendengar 1 pihak, atau malah jadi menyalahkan pihak yang lain. Karna menurut aku, kalau ingin menyelesaikan masalah lebih baik langsung dengan orang yang dituju. Jelaskan apa masalah yang mengganjal di hati, kenapa terjadi masalah itu, jika salah, bersedialah minta maaf. Jika selesai minta maaf, lupakan masalah itu. Jangan diungkit-ungkit lagi. Kenapa? Mungkin orang yang kita ungkit-ungkit itu sudah bahagia, sudah ngga memikirkan lagi, sudah tenang dengan dunianya, sedangkan si pengungkit malah hari-harinya disibukkan dengan masalah yang hanya itu-itu saja. Terkungkung pikirannya dengan masalah yang ngga bisa diungkapkan hatinya, terjerat dengan penyakit hati yang tersimpan lama atau sebenarnya dikejar-kejar rasa bersalah sehingga selalu ingin menaikkan masalah yang itu-itu saja untuk mencari perhatian. Karena sebenarnya hobi mengungkit-ungkit masalah yang lalu adalah wujud dari “virus hati” yang sudah menjangkit dan suatu saat pasti akan kambuh lagi.

 

Ibu hamil suka yang dingin-dingin?

Suhu kota Padang beberapa hari belakangan ini dahsyat panasnya. Selain letak kota Padang yang sangat dekat dengan laut. Sudah beberapa hari hujan juga ngga turun. Kalaupun ada tanda-tanda hujan, lebih ke arah tanda doang sih ya alias mendung bukan ke arah turunnya hujan.
Panas-panas gini terutama untuk ibu hamil, paling asoy kayaknya ngemut es ya. Banyak cerita beredar kalau lagi hamil ngga baik minum-minum es, apalagi minum-minuman keras. Okey, es emg bentuknya keras (mulai error sangkin panasnya).
Kenapa ibu hamil ngga boleh minum es? Katanya sih buat badan makin kembang kesana kemari tanpa tau arah tujuan. Tapi, dalam keadaan cuaca puhanaz begini masa sih harus ditahan keinginan ngadem minimal dengan es batu?
Kalo menurut aku, plus baca om gugel, plus tanya dokter n sana sini, boleh aja kok minum yang dingin-dingin. Tapi…ada tapinya, yah jangan berlebihan. Ingat, sesuatu yang berlebihan itu pasti ngga baik. Daripada keseringan minum es trus jadi batuk trus sakit, apa ngga kasian sama si janin dalam perut?
Boleh minum es, tapi..(ada tapi lagi) jangan dengan sesuatu yang manis-manis. Nah itu yang “katanya” bikin melar kesana-sini. Contohnya: Ngeskrim 5x sehari (duh..), minum sirup seharian, es cendol, es campur, teh manis dingin, bla bla bla es yang manis seger penghilang dahaga. “Katanya” lagi sih itu hanya penghilang dahaga sementara ya buibu..
Aku sendiri tu emang ngga doyan banget sama yg manis. Ehem.. Yah lebih karena eneg dan parno dengan riwayat diabetes kedua orangtua. Tapi, emang ngga bisa dipungkiri, disangkal atapun di tutupi, otw hamil 34 minggu ini beneran butuh minuman dingin ditambah dengan yang manis manja grup. Halah..maksudnya yang manis-manis yahud gitu. Kadang ya prinsip keenegan akan manis itu dilanggar juga. Misalnya, sekarang tiap pagi doyan banget buat es milo dan ditambah gula. Hiks.. Padahal selama ini ya minum hanya milo thok tanpa gula. Udah cukup manis banget, menurut aku. Tapi sekarang, antisipasinya yah pakailah gula Tropicana Slim yang menurut pengakuan suami tidak seenak gula pasir biasa. Ah, biarin..yang penting  aku tetap ngjaga diri dari kemanisan yang berlebihan (ah…alibi sekali, boong dll)
Nih ada beberapa saran untuk ibu hamil yang lagi kepanasan plus lagi gandrung-gandrung nya minum es pLus manis versi aku:
1. Kalau tetap pengen yang dingin manis manja grup, hedeh.. Rasa manis nya mungkin bisa diantisipasi dengan tidak menggunakan gula pasir biasa, coba beralih ke gula untuk diabetes. Bedanya? Rasanya jelas beda dan menurut kemasannya sih 1 sachet gula diabetes = 2 sendok teh gula pasir. Dari segi harga tentu lebih mahal ya, tapi keputusan tetap ada di kamu..kamu dan kamu.
2. Buat es batu sendiri aja. Selain lebih aman, sehat, n kamu tau air untuk buat es batu itu adalah air yang benar-benar aman untuk dikonsumsi. Kalau beli di luar kan ngga tau higienis apa ngga.
3. Beralih ke jus buah. Sumprit..jus buah emang enak bgt dikonsumsi ibu hamil. Nah, aku tuh selalu minum jus buah pagi hari sebelum berangkat ngantor. Untuk kesehatan diri, janin dan si suami juga. Kalau jus buah, gausa ditambahin gula lagi. Kecuali untuk buah-buah yang asamnya kelewatan. Buah apa aja? Yah apa aja, yang paling sering sih pear, sunkist, pepaya, mangga, kiwi, n jambu merah.
4. Bolehlah minum es es manis yang beredar, tapi inget batasannya. Jangan sampai berlebihan.
5. Air kelapa pakai es, enak banget nga sih. Selain dingin, air kelapa bagus banget untuk ibu hamil dan janin. Eh tapi, kalau bisa air kelapa hijau yang murni aja, no sugar. Bawa pulang ke rumah, tambahin lah es batu made in tangan sendiri. Wuih…kebayang segernya.
Segitu dulu deh, kalau ada tambahan lain boleh la di sharing di mari.
Semoga hari ini hujan, biar kota Padang ademan dikit. Yah kalau ngga juga ngga apa deh, yang penting masih bisa bernafas n aktivitas.
*ketjup satu-satu

Selamat Natal ya, kamu..kamu..dan kamu

Sabtu ini hari ke 26 di bulan Desember. Nggak terasa bentar lagi Desember berakhir, 2015 berakhir, tahun baru menanti. Yang paling ngga terasa adalah liburan yang udah dirasain dari hari Kamis n bakalan berakhir besok. Yuhuu…Senin masuk kerja lagi.
Semoga lebih fresh terutama untuk bumil yang makin hari makin berat, makin nyusahin hadap kiri or kanan,makin suka uring2an, makin kepanasan n yang pasti makin ngga sabar corat-coret kalender nunggu waktu kopdar sama si janin yang namanya masih diperdebatkan sampai hari ini.
Resolusi 2016? Masih belum kepikiran. Kurang persiapan banget ngga sih gue? Yahh minimal aku berharap resolusi itu akan muncul mendadak di hari terakhir Desember ini.
So, inti dari tulisan hari ini apa? Yah ngga ada sih. Hanya mau ucapin selamat hari Natal untuk kamu kamu kamu saudaraku, temanku, sluruh orang yang ngbaca tulisan ini pastinya. Semoga damai Natal tahun ini dapat berlanjut untuk tahun depan dan tahun-tahun berikutnya.
*ketjup satu-satu

Self Reminder: Natal itu…

Bulan Desember identik dengan Perayaan Natal. Seluruh gereja di semua pelosok daerah pasti merayakan Perayaan-perayaan Natal yang dimulai dari tanggal 1 Desember – 22 Desember. 23 Desember biasanya Natal Keluarga dan disambung Malam Natal di 24 Desember. Puncaknya jelas tanggal 25 Desember semua khalayak berkumpul untuk merayakan hari besar tersebut.

Aku adalah seorang yang merayakan Natal sebagai hari besar dimana menurutku pribadi, Natal tersebut memperingati lahirnya Sang Juru Selamat ke dunia untuk menebus dosa semua manusia. (Mungkin pemahaman setiap orang berbeda, tapi ini adalah kepercayaan aku so selagi nggak ngusik elo ya jangan usik pemahaman gue gitu. Heheheh..). Bukan definisi yang aku bahas hari ini. Masalah kepercayaan, tentunya ada di tangan masing-masing individu ya. Apalagi di jaman semua orang suka merasa benar dengan pemahaman yang diyakininya dan menyerang dengan akun-akun palsu geje tanpa ucapan yang bisa dipertanggungjawabkan. Ahaiii..

Setelah bertahun-tahun, entah kenapa beberapa hari ini tergelitik ketika melihat posting-posting foto yang ada di medsos. Kenapa tergelitik, mungkin pengaruh janin kecil dalam perut juga ikutan gelitik-gelitik tulang rusuk saat liat-liat medsos. Apalah..

Entah angin apa yang lagi lewat, trus tiba-tiba kepikiran sendiri. Apasih Natal itu sesungguhnya? Apa harus dituntut harus pakai kebaya, sexy dress dan makeup+hair style yang aduhai? Bukannya Tuhan Yesus itu datang lahirnya hanya di kandang domba. Piye kalau misalnya udah dandan abis-abisan trus ujan, trus kebasahan, semua baju, makeup, rambutnya pada basah kuyup. Apa masih pengen ngerayain natal yang udah direncanain? Masih konsen nggak untuk ikutin perayaan Natal dari awal sampai akhir? Trus, kalau udah dandan kece, tetiba di jalan ada orang tabrakan yang membutuhkan pertolongan banget, apa rela ngga jadi datang perayaan Natal demi nyelamatin orang yang butuh pertolongan tsb? Jujur, mungkin aku salah satu yang euforia sendiri dengan perayaan Natal. Tapi sampai kapan diri sendiri ini harus pura-pura lupa dengan makna Natal yang sesungguhnya. (Tabok kepala sendiri)

Self Reminder: Natal ngga harus selalu dengan baju bagus, perayaan mewah, makanan enak, haha hihi bareng temen-temen, pamer aksesoris or apapun,tapi yang terpenting adalah gimana hati kita bener-bener tulus untuk ngerti tentang arti dari perayaan yang sedang kita hadiri. So, ngga bole pake baju bagus gitu? Ngga bole mewah-mewahan?? Eh, ngga bilang gitu juga. Tiap orang kan punya hak untuk memakai barang-barang yang telah dibeli sesuai dengan hasil kerja nya masing-masing, n keputusan tiap orang juga untuk memakai itu kapan dan dimana dalam perayaan apa. Tapi yah lebih indah lagi kalau fokusnya bukan untuk kelihatan cantik di luar, karna yang terpenting adalah hati yang meresapi arti kelahiran sang Juru Selamat. Pandang sekeliling begitu banyaknya orang-orang yang nggak seberuntung kita bisa merayakan Natal di gedung yang bagus, hotel mahal, dll. Yahh..inti dari kecomelan hari ini adalah ingatlah inti dari Natal itu sendiri, bukan persiapan luar dari Natal yang hanya terlihat bagus untuk mata manusia.

Sekian. Jangan protes. Kalau mau protes, buat blog sendiri. Huehehehehe…

Bye OPPO

Bye Oppo, handphone cina yang menemani ku 1,5 tahun belakangan. Pengganti hp sebelumnya yang ditinggal mati di laut yang mengelilingi Phi-phi Island.

Ceroboh? Iya kali ya. Sejak si iphone 5s yang dengan naasnya menelan air garam yang mengakibatkan terjadinya kematian mendadak di dirinya yang takkan pernah bisa tertolong lagi, sekarang si Oppo R1 yang dengan ringannya terjatuh dan tercampak begitu saja dari tangan ini.

Dengan kondisi batre yang lepas plus ikatan-ikatan apalah yang ada dibelakang hp pada putus  dan menyembulkan 1 pesan ketika di cas, battery error.

Mungkin harus lebih menghargai barang atau aku punya jenis tangan yang ngga bisa pakai barang bagus dikit. Maunya ngancurin mulu. T.T

Bye Oppo, semoga kau diterima di sisinya dengan kebaikan mu yang selalu menemani hari-hari eksis ku.