Peyek “Kantin Amak” pagi ini

Selamat hari Jumat pagi. Ini Jumat pertama setelah aku nikah dan tinggal bersama suami dan datang ke kantor pukul 07.15 wib. Alasannya, yah karena persediaan makanan untuk suami sudah dimasak semalam. Jadi kegiatan agak bebas pagi ini.

Tapi tetap saja sebagai ibu hamil yang sedang mengandung 7 bulan, tidak sarapan pagi-pagi itu serasa tidak makan 3 hari. Oleh karena itu, walaupun datang pagi-pagi tetap aja ngbontot nasi dengan lauk ayam sambal bombay untuk pagi ini. Made in diri sendiri lo ya. Spesial dengan ke-no vetsin-an dalam tiap sendok suapan. Apalah..

Mungkin jam sarapan yang terlalu cepat atau sebagai ibu hamil yang lambungnya jg ikut membesar, kok masih terasa lapaarrr padahal udah menghabiskan 1 kotak nasi tadi. Akhirnya terpencetlah nomor 3003 yang menghubungkan telepon ruangan ke telepon kantin amak yang berjarak 20 meter dari ruangan. Setelah tanya-tanya dengan si uni, cemilan yang ada itu mie goreng, lontong, dan sementara itu aja (mungkin di taun 2015 ini, mie goreng dan lontong sudah termasuk dalam kategori cemilan. Yang termasuk dalam makanan beratnya itu semen, pasir, beton, dll.. -.-)

Akhirnya saya menjatuhkan pilihan sendiri dengan menanyakan peyek. Karena seingat saya hanya peyek kriuk yang merupakan cemilan normal yang dijual disana. Syukurlah, si uni bilang “ohh..peyek ada”. Puji Tuhan, saya nggak makan mie goreng lagi pagi ini. Setelah berpikir agak lama mau pesen 1, eh 2 eh 3 deh ni, akhirnya pesanan peyek saya mendarat mulus di meja kerja diantar oleh keponakan si uni yang bernama Kamila.

Teringatnya si Kamila ini udah gede aja sekarang. Dulu 3 tahun lalu sepertinya masi lucu-lucu nyebelin gitu. Apalagi waktu doi pulang sekolah yang kebetulan waktu itu dia nya lagi TK, trus disuruh ngeja namanya. Namanya sApa? Dia jawab,”Ke aka em ama em imi” Kamila..
Okey, sejak kapan ejaan yang hasilnya “Kamami” jadi “Kamila”. Tapi tampaknya sekarang dia sudah menyadari kekeliruan nya dulu ketika mengeja namanya. Baiklah..lupakan

Kembali ke peyek, peyek yang dijual di kantin amak seperti peyek biasanya. Tapi mungkin untuk emak-emak kayak aku ni, taburan kacang di atas peyek itu masih jarang-jarang kayak pohon di gurun pasir. Mungkin harus diperbanyak biar sesuai dengan peyek-peyek yang dijual di luaran. Yah tapi minimal, peyek ini sedikit mengurangi keinginan ibu hamil untuk terus mengunyah. Sampai selesai menulis ini, sudah 1 peyek yang saya habiskan. 2 lagi saya simpan di laci, karena banyak lelaki-lelaki disini yang keinginan ngunyahnya sama seperti ibu hamil (lirik adry n tomo).

Peyek Kantin Amak

Peyek Kantin Amak

Selamat hari Jumat, selamat berbatik ria, tapi hari ini saya kotak-kotak aja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s