WWE, Smackdown dan Suami

WWE, Smackdown dan sejenisnya itu beneran apa nggak sih? Dulu-dulu tuh ya sempat kan lagi heboh-hebohnya Smackdown nongol di TV. Buat beberapa anak kecil yang lagi pada labil mencari jati diri pada ikut-ikutan mraktekin pose-pose smackdown yang akhirnya malah nglukain temennya sendiri. Inget banget banyak kasus anak-anak SD yang pada gegayaan ngikutin kuncian-kuncian yang ada di Smackdown supaya dikata keren. Hahahah…

Hubungan WWE, Smackdown dan sejenisnya dengan suami? Yuhu…semenjak nikah akhirnya aku tau kalau sang suami itu penggemar berat WWE dan sejenisnya. Kalau dilihat dari tampang sih, kayaknya suami ini nggak mungkin lah pecinta WWE. Ditambah dengan bulu mata lentik semriwing kesana kemari kayaknya ngga menunjukkan citra pecinta WWE sejati. Tapi aku salah, doi cinta banget sama pertunjukkan WWE.

Suatu saat, suami masang channel WWE yang kebetulan ternyata ada di saluran tv kabel di rumah. Aku cuma bisa jejeritan minta ganti channel tv. Kenapa? Yaiyeslah, kok sepertinya adegan-adegan nya sangat tidak berkeprimanusiaan dan prikeadilan. Tapi terbersit juga, ini beneran nggak sih? Soalnya, masa kok ya udah dihantam sejadi-jadinya masih aja nggak ko’it2. Minimal berdarah la ya.

Kata suami sih itu rekayasa, rekayasa untuk menarik penonton.

Suami (S) : Itu sih rekayasa

Aku (A) : Ah, ngga mungkin lah. Udah dipukul segituan banget masih rekayasa.

S: Rekayasa kali, mungkin mereka punya teknik sendiri gimana cara mukulnya biar nggak sampe berdarah or parah or gimana. Lagian kan mereka itu kayak pemain-pemain sirkus gitu.

A: mmmm…. (tetep ngga percaya)

S: (Lanjut nonton sambil ketawa-ketiwi)

Kadang dalam hati terlintas, huh..curiga ntar si suami ini tiba-tiba berubah jadi salah satu pemain dari WWE dan sejenisnya trus praktekkin adegan-adegan geje di rumah. Wkwkwkkw…

Saat nonton itu sih, yang ada dalam hati ini berasa pedih, sedih, dan mungkin aku lebay. hahahah.. Lebih ke arah, kok ada sih ya yang begituan. Tapi akhirnya makin lama, sekarang aku juga jadi kecanduan nonton itu. hahahahha… Gayaaa  banget bilangin suami, padahal sekarang doyan.

Tanda doyannnya itu dimulai dengan mulai tau nama-nama pemain WWE dan Smackdown. Kenapa bisa tau? Soalnya diulang-ulang mulu sih. Jadi hapal deh. hahahah..

Salah satu contohnya, aku tuh suka banget sama Roman Reigns. Untuk pemain cewek suka sama Paige. Soalnya cantik. Apalah… Bagi yang belum tau, ini gambar Bang Roman Reigns yang ganteng itu yang aku ambil disini

Suka sama abang ni soalnya tampangnya nggemesin di banding bintang yang lain. Tapi kadang heran, kok tiap adegan rambut doi basah mulu ya. Mungkin dy punya shower air dalam kepalanya. Trus Roman reigns ini juga agak sedikit banyak gaya ya, kalau mau nyerang musuhnya pake kuda-kuda yang kelamaan, malah akhirnya dy sendiri yang jatuh di hantam lawan.

Untuk yang pemain perempuan, aku suka banget sama Paige. Ini gambarnya aku ambil disini

https://i2.wp.com/fhm.fishtank.my/getmedia/bc9b3587-3c68-4729-95b2-8d5a183d52e0/Paige_V_1.jpg.aspx

Wajah cantik kok habis ditoyor sih mbak. hahahah.. Suka emosi sendiri kalau dy udah main nglawan Bella Family (Nikki Bella and Brie Bella)

https://i1.wp.com/kristyalonzo.com/wp-content/uploads/2014/11/showbiz-wwe-nikki-and-brie-bella-01.jpg

yang kembar berdua ini kadang-kadang suka curang sih mainnya. Jadi buat gemes sendiri.

Trus ada beberapa pemain lain yang akhirnya jadi tau:

Seth Rollins sang juara yang geje politiknya

John Cena yang selalu pake kostum ngbasket sebelum tanding

cesaro yang banyak kuda-kuda juga sebelum nyerang, tapi malah kelamaan akhirnya jatuh sendiri.

Russev n Summer Rae yang penuh drama

dan masihhh banyak lagi.

Kalau diikuti sih, sebenarnya mereka ini lagi main drama dibumbui konflik-konflik di setiap adegannya. Yah pinter-pinter kita sebagai penonton untuk menyaringnya ini bagus atau tidak.

Pelajarannya:

  1. Segala sesuatu bentuk kekerasan dilihat dalam jangka waktu yang lama menjadikan diri kita biasa dengan hal-hal kayak begituan. So, sangat tidak dianjurkan anak-anak di bawah umur untuk menonton adegan kekerasan pada tayangan-tayangan tersebut. Sebabnya, selain mempengaruhi emosi anak juga menjadikan anak menganggap hal itu biasa dan bisa di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Bukan berarti karena aku sekarang suka dengan WWE, Smackdown dan sejenisnya trus menjadikan hal itu biasa dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu dibutuhkan kecerdasan pikiran dan emosi untuk bisa membedakan yang mana yang baik untuk dilakukan mana yang tidak baik untuk dilakukan.
  3. Kalau ada tambahan lain, silahkan kasi di komentar aja

 

 

 

 

Advertisements

Gulai ikan tongkol made in Juliha

Selamat pagi di hari Minggu. Hari ini aku mau share masakan tradisional yang terinspirasi dari kelapa parut yang udah di beli Buk Af sang CS kantor di hari Jumat kemarin. Seharusnya sih kelapa parut itu baiknya langsung digunakan karena kelapa parut ataupun olahannya seperti santan itu gampang banget basi. Tapi kebetulan, setelah di cek pagi ini si kelapa parut masih dalam kondisi baik. Mungkin karena disimpan deket banget dengan freezer. Jadi nambah pengalaman deh ya, supaya kelapa parut nggak basi boleh disimpan deket freezer paling lama 2 hari. Kalau lebih, aku sih ngga tanggung jawab. Oiya, ini berlaku untuk kelapa parut lho ya, bukan santan. Inget, bukan santan.

Masakan apa sih? Hehehe…sebenarnya cuma mau ng-share resep Gulai Ikan Tongkol made in Juliha. Ahaiiiyy… Da biasa ya? Iyah da biasa banget emang. Tapi, nggak biasanya karena bumbunya digiling langsung, kelapa parut yang diperas langsung, dan special tanpa penyedap rasa. Kalau nggak mau repot sih bisa beli bumbu gulai siap jadi di pasar, tapi yahhh…. karena gamau pakai penyedap rasa jadinya lebih baik ngolah bahan-bahannya sendiri biar lebih “nyeesss” gitu.

Kita mulai aja ya para buibu, gadis, mahmud, dll:

FYI, untuk bahan-bahannya udah dibeli sama buk Af yang aku ceritain di atas tadi, kebetulan sebagai emak-emak dengan perut yang udah gendut kesana sini, untuk ke pasar agak-agak diurungkan deh sekarang. Takut terpental trus guling-guling (oke..aku lebay)

Bahan-bahannya:

  1. Ikan tongkol sisik 1/2 badan nya aja
  2. Sereh
  3. Santan dari kelapa parut yang diperas
  4. Segala jenis daun untuk gulai (daun salam, daun jeruk, dll)
  5. garam dan gula

IMG_20151122_074601.jpg

IMG_20151122_074616.jpg

Bumbu dihaluskan:

  1. Cabe merah 9 buah
  2. Cabe rawit kalau pengen pedas
  3. Bawang merah secukupnya, yah bole 6 siung lah
  4. Bawang putih secukupnya, yang pasti lebih dikit dari bawang merah. Sekitar 3-4 siung
  5. Kunyit 2 cm
  6. Jahe 2 cm
  7. Lengkuas
  8. Kemiri

IMG_20151122_074641.jpg

IMG_20151122_074545

Ini di foto dalam keadaan setengah halus, harusnya lebih halus dikit lagi. Hehheeh.

FYI lagi, kalau di Padang untuk buat gulai itu bisa beli yang namanya Langkok. Langkok itu asal kata dari lengkap ya. Lengkap  isinya mulai dari jahe, kunyit, lengkuas, daun-daunan, sereh. Porsinya untuk sekali masak, jadinya udah dipotong kecil-kecil gitu.Trus di buat paket jadi 1, so harapannya 1x masak = 1 langkok. So, nggak kebuang-buang gitu.

Cara membuat:

  1. Bersihkan ikan tongkol, lumuri dengan jeruk nipis dan garam. Diamkan beberapa saat
  2. Haluskan bumbu halus
  3. Panaskan sedikit minyak goreng, tumis bumbu halus sampai wangi
  4. Masukkan ikan tongkol yang sudah dibersihkan
  5. Masukkan santan dari kelapa parut
  6. Tambahkan garam dan gula secukupnya, no penyedap rasa
  7. Kalau sudah agak mendidih, masukkan sereh dan daun-daunan
  8. Gulai nya di aduk terus ya sampai mendidih supaya nggak pecah santan. Tau pecah santan donk ya??
IMG_20151122_074529

diaduk terus sampai mendidih, biar jangan pecah santan

Setelah gulai mendidih, sajikan di mangkok plus disantap dengan nasi panas. Widih…yo bana di ranah minang awak ko mah. Hihihih…

IMG_20151122_074510

Rasanya??? Uenaaakkk  kata suami. So, jangan takut masak masakan tanpa penyedap rasa ya buibu, para gadis dan mahmud’rs. Selamat mencoba gulai ikan tongkol ala juliha.

Visit Sumbar 2015: Malibo Anai keterusan sampai ke Batusangkar

Ketika ibu hamil punya kaki yang bawaannya pengen jalan aja. Yuhu, di sabtu pertama November 2015, si janin lucu berumur 27 minggu, dan si emak gendut lagi ngulet-ngulet di tempat tidur. Tetiba kepengen manjangin kaki (yeahh..emang si janin doang yang bisa meregang kakinya sambil nyundul-nyundul perut) n manggil sang suami. Setelah perdebatan alot antara males pergi tapi mau pergi, akhirnya yah pergi.

“Kemana ma?” kata suami

“Ke Padang Panjang yuk pa.” sambung aku

“Yauda, cepetan donk gerak nya.” lanjut suami

grasak-grusuk persiapan kilat. Kemana? Ke Padang Panjang. Trus kemana? Nggak tau. Perjalanan tanpa tujuan sebenarnya. Tiba-tiba teringat dengan rumah buku nya Fadli Zon yang di Padang Panjang. Tapi belum tau letak nya dimana. Cari-cari di mbah google kayaknya juga nggak nemu.

Perjalanan dimulai dengan “isi bensin” dulu. Isi bensin mobil plus “isi bensin” bumil dan pamil. Singgah di Sup Uni Des tepi pantai Padang. Nasi Sup nya enak la ya. Sepiring nya Rp. 16.000 yang dihiasi dengan potongan-potongan daging yang lumayan tebel dan gede. Singgah ke sini jangan lupa campurkan kerupuk jangek ke dalam piring dan dimakan bersama dengan sup. Rasanya… amboy mak. Setelah piring licin tak bersisa, masih juga ngambil yang namanya Sala Lauak (bener nggak sih tulisannya?). Sala Lauak ini makanan khas minang. Bentuknya bulat-bulat kuning. Berbumbu dan ada rasa-rasa ikan gitu.

sala lauak.jpg

Bawa duit Rp. 50.000 bisa lah makan berdua di Nasi Sup Uni Des. Include Nasi Sup 2, Teh Botol Sosro 2, Kerupuk Jangek 3 dan Sala lauak 2. Masih ada kembalian beberapa ribu untuk parkir.

Untuk ke arah Padang Panjang dari Nasi Sup Uni Des, kami lewat dari Jalan Ulak Karang yang ke arah Basko. Tiba-tiba teringat sama tempat yang namanya Malibu Anai. Malibu Anai itu salah satu resort di sepanjang jalan Sicincin-Padang Panjang. Letaknya sebelah kiri dari jalan. Biasanya sih dipakai orang-orang untuk outbond, acara resmi or sekedar mandi-mandi doang. Soalnya disana tu ada tempat pemandian sejenis kolam yang ada batu-batu dan air terjunnya.

Keisengan mendadak akhirnya membawa suami membelokkan setir ke arah kiri. Uang masuknya itu Rp. 5000 yang diambil sama penjaga depan pos. “Trus kita kemana ma?” kata suami. “Kemana ya? Yah jalanin aja deh dulu pap.” lanjutku dengan muka bingung. Heheheh…

Awalnya kita belok ke kanan dulu, ngeliat pemandangan-pemandangan aja. Sepi sih ya. Dengan jalan yang sedikit naik turun, trus ngeliat beberapa anak SMA yang makan di pinggir taman sambil siram-siraman air minum. Jalan terus ke atas, ternyata ada sekelompok mahasiswa yang sepertinya mau outbond dan masuk ke pemandian. Hmm… akhirnya kita muter arah deh.

Next, cari-cari tempat lucu dan sepi untuk foto-foto geje. No foto hoax ya… yah beginilah salah satu hasilnya yang nggak banget karena ngrasa jalan milik sendiri

DSC_0129

Hanya ambil beberapa gambar, udah mulai kedengaran gluduk-gluduk yang tanda nya mau hujan. Yah akhirnya perjalanan Malibu Anai diakhiri dengan waktu sekitar 30 menit sajah.

Next, kami lanjut ke Padang Panjang. Kota yang dikenal dengan julukan Serambi Mekah. Kenapa? Karena Kota Padang Panjang ini terkenal sangat religius sekali. Dengan kondisi kota yang di kelilingi gunung-gunung, udara yang dingin, kondisi hujan yang nggak bisa diprediksi BMKG dan yang pasti kotanya sepi. Adem, julukan tambahan untuk kota ini.

Rencana awal ke rumah buku Fadli Zon kayaknya diurungkan, karena kami nggak tau tempatnya. Mungkin dikunjungan lain bakalan singgah kesana deh. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang ketika kami sampai di Kota Padang Panjang. Ngeliat pondok Sate Mak Syukur yang terkenal itu, tapi sebagai mak hamil yang perutnya buncit, siang-siang makan sate kayaknya cuma gelitik-gelitik usus. Akhirnya, aku berhasil merayu sang suami untuk parkir di salah satu resto di Padang Panjang namanya RM Pak Datuak. RM Pak Datuak ni termasuk rumah makan yang rame, mungkin karena letaknya strategis juga termasuk rumah makan gede di Padang Panjang. Lauk nya dihidangkan (khas RM Padang), kami makan rendang 2, gulai cancang seporsi, nasi, teh manis dingin dibayar dengan Rp. 85.000. Tapi kok kayaknya lebih puas dengan RM Lamun Ombak ya? hahahahah..

Setelah makan siang di RM Pak Datuak, terjadi kebingungan arah lagi. Mau ke Bukittinggi atau ke Batusangkar. Jalanan ke Bukittinggi sudah bisa dipastikan macet karena hari Sabtu pasti banyak banget yang liburan kesana. AKhirnya diputuskan untuk ke Batusangkar.  Arah jalannya? Setau saya sih arah jalannya kalau dari Padang Panjang itu belok ke kanan ke arah Solok dari kota. Ikuti aja petunjuk arah di jalanan yang membawa kita ke Batusangkar.

Batusangkar terkenal dengan Istana Pagaruyung yang merupakan ciri khas rumah adat Minang dengan Bagonjong nya. Pernah liat di Museum Adityawarman Padang, tapi kayaknya kalau nggak kesana kok kayak belum sah ya tinggal di ranah Minang.

Sempat kesasar juga sih ya mau ke Istana Pagaruyung, tapi saran ku sih yang penting liat petunjuk jalannya aja. Kalau udah agak kesasar, tanya sama penduduk yang lewat pasti dikasi arah yang benar.

Finally, sampai juga di Istana Pagaruyung. Guedeeee… megah…apalagi ya..?
Uang masuknya Rp. 7000/orang untuk wisatawan domestik dan Rp. 14.000/orang untuk wisatawan luar negeri. Memasuki pagar dari Istana Pagaruyung, sayup terdengar lantunan lagu Minang yang mendayu-dayu. Buat janin kecil jadi pengen bergoyang di dalam perut. Pokoknya suasananya minang banget lah ya.

Jam menunjukkan pukul 2 siang ketika kami sampai di Istana Pagaruyung. Disambut dengan matahari yang lagi sengit-sengitnya bersinar buat emak gendut gak selesai-selesai menyeka keringat. Fiuhhh…

No pic pasti lah hoax, ini beberapa gambar yang diambil di depan Istana Pagaruyung. Oiya, untuk foto kami berusaha mandiri dengan menggunakan tripod. Wwkwkwkwk..jijay ya. Tapi demi..demi dan demi menangkap momen-momen indah. Hihiihi..

DSC_0144.JPG

Trus kami masuk ke dalam Istana, tapi terlebih dahulu sendal dan sepatu harus dititipkan di penjaga depan. Dimasukkan ke dalam kantong plastik untuk masing-masing pengunjung, jadi nggak disatukan dengan pengunjung lain. Mungkin bisa rebutan ntar kalo disatukan dengan yang lain. Oiya, ada 3 lantai dalam Istana Pagaruyung. Lantai 1 isinya peninggalan benda-benda kerajaan gitu plus patung-patung dengan pakaian adat Minang.

IMG_20151120_094343.jpg

IMG_20151120_094359

IMG_20151120_094415

Lantai 2 isinya ornamen-ornamen nikahan untuk adat Minang gitu. Mulai dari panggung hiasan-hiasan untuk latar tempat nikahan Minang.

IMG_20151120_095843.jpg

Lantai 3 isinya kayak ruangan kecil. Ada meja bundar kecil dikelilingi kursi-kursi untuk ngopi raja-raja dulu kali ya.

DSC_0179

Finish, kita kembali ke lantai dasar. Setelah turun tangga, kita diminta untuk memberikan sumbangan untuk penitipan sendal dan sepatu. Seikhlas hati pengunjung aja sih dan dimasukkan dalam kotak di depan yang udah disediakan sama penjaganya.

Di Istana Pagaruyung juga ada penyewaan baju adat Minang. Jadi kalau kita mau foto-foto alay pakai baju adat Minang, bisa disewa di lantai dasar dengan harga Rp. 35.000 – Rp. 40.000 / baju. Trus bisa minta tolong sama uda-uda untuk difotoin dengan kamera mereka. Bayarannya belum ditanyain karena kami ngga mencoba pakai jasa mereka. Oiya, karena kegerahan, jadinya si emak gendut ini nggak jadi nyobain baju adat Minangnya. Udah lengket banget kepengen pulang.

Di luar Istana Pagaruyung banyak banget jual makanan, tapi kami mutusin beli minum di swalayan aja deh biar terjamin keabsahannya. Jiaahh..

Jalan pulang nya kami lewat dari Padang Panjang. Karena, rasanya lebih dekat dari Padang. Selain badan emak gendut udah tepar, si suami juga udah ngantuk berat. Oiya, pulangnya nggak lupa singgah dulu di Bakso Mas Tris Tabing plus jjs nggak jelas di Basko. Ini capek atau capek?

Yuk kapan lagi kita kemana pa?

 

Serabi Bandung, menu ngidam suami

Finally..hari ini perayaan 7 bulanannya kunyul. Kunyul si janin kecil yang lagi hinggap di rahim aq. Yang lagi hobi tendang-tendang, yg kemaren pas priksa ke Dr.Yoshida rada-rada sombong n sungsang. Yg buat aq 2 hari ini harus nungging2 gak karuan supaya posisi si kunyul bisa normal lagi.

Ngomong-ngomong tentang ngidam, selama hamil kunyul yg udah 7 bulan ini kayaknya aq gak terlalu banyak minta makanan ini itu ya. Gak tau sisa 2 bulan lagi gimana. Tapi ntah kenapa, malah suami yang sepertinya ngidam. Ngidam nya..serabi Bandung. Kebetulan di Padang ada restoran Enhay yang spesialisasi serabi Bandung. Beberapa hari lalu, suami aq bisik-bisik bilang kalau dia kepengen banget makan si serabi ini. Jujur, sebagai makhluk yang ngga suka jenis makanan yg termasuk dalam kategori lembel/lunak, aq sendiri ngga pernah mau makan serabi. Hahhaha…itu prinsip. Tapi ketika suami ngidam mendadak, mau ngga mau tergoda juga untuk mencicip sesendok.

Setelah beberapa kali mondar-mandir dengan kengidaman yang tiada henti, akhirnya sore ini sang suami mengajak untuk cicip-cicip serabi Bandung lagi. Karena aq ngga terlalu doyan dan biasanya cuma icip2 kulit manggis aja. Tapi prinsip kelembekan itu sepertinya goyah hari ini, aq pesan serabi coklat keju 1 porsi. Hanya untuk aq..ya aq aja.

Serabi Coklat Keju Enhay

Suami sih pesan menu serabi lain, serabi keju sosis. Apalah rasanya? Enak, begitu kata suami. Tapi, ngga sempat difoto pesanan suami, soalnya takut ntar disindir alay. Hihihi…

Nggak tau ngidam nya suami dengan serabi Bandung ini nanti akan berakhir kapan dan dimana. Atau, mungkin akan berganti ke menu lainnya.

Peyek “Kantin Amak” pagi ini

Selamat hari Jumat pagi. Ini Jumat pertama setelah aku nikah dan tinggal bersama suami dan datang ke kantor pukul 07.15 wib. Alasannya, yah karena persediaan makanan untuk suami sudah dimasak semalam. Jadi kegiatan agak bebas pagi ini.

Tapi tetap saja sebagai ibu hamil yang sedang mengandung 7 bulan, tidak sarapan pagi-pagi itu serasa tidak makan 3 hari. Oleh karena itu, walaupun datang pagi-pagi tetap aja ngbontot nasi dengan lauk ayam sambal bombay untuk pagi ini. Made in diri sendiri lo ya. Spesial dengan ke-no vetsin-an dalam tiap sendok suapan. Apalah..

Mungkin jam sarapan yang terlalu cepat atau sebagai ibu hamil yang lambungnya jg ikut membesar, kok masih terasa lapaarrr padahal udah menghabiskan 1 kotak nasi tadi. Akhirnya terpencetlah nomor 3003 yang menghubungkan telepon ruangan ke telepon kantin amak yang berjarak 20 meter dari ruangan. Setelah tanya-tanya dengan si uni, cemilan yang ada itu mie goreng, lontong, dan sementara itu aja (mungkin di taun 2015 ini, mie goreng dan lontong sudah termasuk dalam kategori cemilan. Yang termasuk dalam makanan beratnya itu semen, pasir, beton, dll.. -.-)

Akhirnya saya menjatuhkan pilihan sendiri dengan menanyakan peyek. Karena seingat saya hanya peyek kriuk yang merupakan cemilan normal yang dijual disana. Syukurlah, si uni bilang “ohh..peyek ada”. Puji Tuhan, saya nggak makan mie goreng lagi pagi ini. Setelah berpikir agak lama mau pesen 1, eh 2 eh 3 deh ni, akhirnya pesanan peyek saya mendarat mulus di meja kerja diantar oleh keponakan si uni yang bernama Kamila.

Teringatnya si Kamila ini udah gede aja sekarang. Dulu 3 tahun lalu sepertinya masi lucu-lucu nyebelin gitu. Apalagi waktu doi pulang sekolah yang kebetulan waktu itu dia nya lagi TK, trus disuruh ngeja namanya. Namanya sApa? Dia jawab,”Ke aka em ama em imi” Kamila..
Okey, sejak kapan ejaan yang hasilnya “Kamami” jadi “Kamila”. Tapi tampaknya sekarang dia sudah menyadari kekeliruan nya dulu ketika mengeja namanya. Baiklah..lupakan

Kembali ke peyek, peyek yang dijual di kantin amak seperti peyek biasanya. Tapi mungkin untuk emak-emak kayak aku ni, taburan kacang di atas peyek itu masih jarang-jarang kayak pohon di gurun pasir. Mungkin harus diperbanyak biar sesuai dengan peyek-peyek yang dijual di luaran. Yah tapi minimal, peyek ini sedikit mengurangi keinginan ibu hamil untuk terus mengunyah. Sampai selesai menulis ini, sudah 1 peyek yang saya habiskan. 2 lagi saya simpan di laci, karena banyak lelaki-lelaki disini yang keinginan ngunyahnya sama seperti ibu hamil (lirik adry n tomo).

Peyek Kantin Amak

Peyek Kantin Amak

Selamat hari Jumat, selamat berbatik ria, tapi hari ini saya kotak-kotak aja.