Kalau Gaji para Wakil Rakyat sesuai UMR?

Melihat banyaknya kisruh yang melibatkan para wakil rakyat yang dimuat di banyak media sosial atau elektronik saat ini membuat saya sebagai orang awam yang tidak mengerti politik bergidik ngeri.

Mengapa? Karena saya ingat ketika saya dengan malas-malasan mencoba bangkit dari tempat tidur , mandi dan kemudian pergi ke TPS untuk mulai memilih yang namanya wakil rakyat.

Awalnya saya agak bimbang untuk ikut berpartisipasi terlebih KTP saya bukan dari daerah saya berdomisili saat ini (Sumatera Barat). Tetapi, setelah tanya kanan kiri kepada penghuni kost yang punya nasionalisme yang tinggi tetapi juga mempunyai nasib sama dengan masalah KTP, akhirnya kami pun sepakat untuk menjadi warna negara Indonesia yang baik saat itu.

Sungguh saya tidak mengenal satu calon pun yang tertulis di kertas suara. Walaupun sebelumnya si bapak kost sempat menelepon kami (saya dan teman kost) untuk memilih kandidat jagoannya. Entah bodoh atau kurang peka, saya lupa di baris dan kolom berapa yang dimaksud oleh si bapak kost. Maafkan saya pak..

Demi tetap memilih, akhirnya saya mencoblos partainya saja. Kenapa?

1. Saya tidak mengenal siapa kandidat yang “melamar” menjadi calon anggota wakil Rakyat

2. Mengapa sampai tidak kenal? Apa saya kurang geol? Jawabnya: mungkin saja. Karena sangat banyak baliho-baliho berkibar di pinggir jalan. Dengan wajah dan nama yang tidak mungkin saya hapal dan ingat satu per satu. Terlebih dengan visi dan misi nya yang sangat cetar membahana dan sepertinya sangat muluk untuk saya.  Terlebih, saya tidak kenal secara pribadi, jadi bagaimana saya bisa menilai para calon yang wajahnya berkibar di baliho jalan itu memiliki attitude yang baik?

3. Menurut saya, yah ini menurut saya si masyarakat bodoh dan tidak tahu politik, saya menilai menjadi wakil rakyat tidak ubahnya seperti sedang melamar pekerjaan di suatu perusahaan dengan gaji yang menggiurkan. Kenapa? Yah sekali lagi saya melihat fakta di media elektronik, begitu banyaknya para calon tersebut yang sebenarnya tidak kompeten di bidangnya. Mungkin tidak semua, tapi sebagian. Sebagian kecil atau besar? Saya tidak tau pasti. Tapi apa yang saya lihat membuat saya menciptakan opini tersebut. Sekali lagi maafkan saya.

Terkadang terbersit di pikiran saya, apabila para wakil rakyat tersebut di bayar sesuai UMR daerah yang berlaku apakah masih banyak wajah cantik dan ganteng berkibar menghiasi pinggir jalan dengan visi misinya??

Advertisements