MAMA KU TIDAK SEMPURNA

Perempuan tidak sempurna yang melahirkan aku di dunia pada tahun 1986 silam, tepatnya di hari Minggu pukul 08.00 pagi. Seorang perempuan yang waktu gadisnya menurutku sangat kurus (hasil melihat fotonya), tetapi ketika melihat foto setelah dia melahirkan aku kenapa sangat gendut ya? Yah mungkin dia banyak makan supaya aku yang ketika itu ada di perutnya tidak kekurangan gizi.

Aku memanggil perempuan itu mama, terkadang kutambah “K” dibelakangnya jadi mamak. Mamak itu panggilan mama yang khas medan banget, tempat aku tinggal. Sebagai informasi, aku anak terakhir di keluargaku. Sedikit manja, tetapi tidak juga. Aku punya 3 orang kakak dan 1 orang abang.

Dulu ketika kecil, aku senang bermanja2 dengan mamak. Terlebih karena mamak itu gendut, beda dengan ibu2 yang lain, aku suka mengelendot di badannya yang menurutku empuk. Sambil nonton Friday 13th yang sangat menyeramkan ketika itu menurutku. Sampai satu peristiwa yang kuingat, ketika menonton film itu sambil memasukkan cotton buds ke telinga. Karena aku sangat suka mencungkil2 telinga kecilku. Jujur saja dari dulu aku penakut, apalagi setiap menonton film horor. Dengan bermodal tangan ku yang kecil, aku bersembunyi di belakang badan mamak yang besar sambil menutup mata. Sampai akhirnya sangkin ketakutannya, aku menjerit2 dan gak sadar ada cotton buds yang masi menancap indah di telingaku. Mamak memeluk ku, dan tadaaaaaaaaa… cotton buds itu masuk dan menusuk telingaku. Darah pun mengucur dan mamak menangis2 melihatku. Yah aku juga nangis2 sih ya…

Lain hari, aku juga suka sekali berlindung di belakang kaos yang dipakainya. Namanya juga aku masih sangat kecil dan tidak tinggi, sehingga aku bisa masuk di belakang kaos mamak sambil berjalan memeluk dan mengikutinya. Trus, setiap hari aku selalu bertanya, “ma…mamak sayang nggak sama adek?” Dia menjawab, “iyaa..” dan hatiku pun puas.

Ketika aku masuk sekolah TK, mamak selalu mengantar ku setiap pagi. Terkadang aku diantar sama bapak dengan mobil, tetapi terkadang aku diantar mamak dengan vespa nya. Iyah, walaupun dia gendut tetapi dia tangguh. Badan ku yang kurus ketika itu sangat menyusahkan mamak untuk memberiku makan. Bukan karna mamak tidak memberi, tetapi karna memang aku nggak doyan makan. Sangat beda dengan sekarang. Mamak masi mengantar dan menjemputku sampai aku SD. Aku ingat, kelas 1 sampai kelas 3, mamak menunggui ku di sekolah. Sambil membawa bekal dari rumah, setiap istirahat dia selalu memanggilku untuk makan dan menyuapi ku. Yah dengan kenakalan anak SD, kadang aku tidak mendengarnya. Ketika sudah masuk kelas dan guru memulai pelajaran, aku pun menangis. Kenapa? Karna salah satu pelajaran membaca saat itu berbunyi: “Ini Ibu Budi” dan aku pun menangis karena teringat mamak yang mungkin saat itu pulang untuk memasak bekal makan siangku.

Terkadang kami pulang dengan vespa yang dikendarai mamak atau dengan naik angkot untuk sampai ke rumah. Dari sekolah ke tempat pemberhentian angkot harus berjalan kaki sekitar 30 menit. Dan mamak membawa tasku dengan badannya yang lagi-lagi gendut. Terkadang kalau mamak capek, dia mengajak ku naik taksi atau bemo ke tempat pemberhentian angkot. Kadang kalau dia sedang mood, dia mengajak ku makan pangsit di daerah Kampung Keling. Taukah kalian bahwa rumah kami saat itu sangat jauh? Setelah naik angkot sekitar 45 menit dan berjalan kaki kembali 20 menit maka kami sampai di rumah. Yah setiap hari itu kegiatan mamak.

Mamak bukan perempuan sempurna. Sangat tidak sempurna, dia hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Nggak gaul kemana2 seperti ibu2 temanku. Dia gendut (lagi) dan tidak langsing seperti ibu2 temanku. Dia juga cerewet dan punya suara yang melengking. Tapi dia pintar masak dan aku sangat menyukai masakannya. Setiap pagi dia bangun jam 5 pagi untuk mencuci pakaian kami. Mamak sangat anti menggunakan mesin cuci. Dia rela bangun pagi dan bertegur sapa dengan air dingin untuk pakaian yang akan kami pakai besok.

Mamak sangat cerewet. Dengan suaranya yang melengking, dia suka memanggilku di swalayan jika aku tiba-tiba menghilang melihat2 barang yang lain. Walaupun dia cerewet dengan kami, tapi aku heran kenapa dia tidak cerewet kepada bapak. Kalau mamak dimarahin bapak, aku gak pernah melihat dia melawan atau membantah. Dia hanya menangis. Ya..menangis. Perempuan sekali.

Kalau aku sakit, mamak suka memasakkan daun ubi tumbuk plus ikan dencis disambal merah. Yah..dulu aku termasuk anak yang suka sakit. Dengan badan kurus melambai, virus2 penyakit dengan mudahnya menghantam tubuh ku yang ringkih (tua sekali kelihatannya). Mamak selalu setia mengantarkan ku berobat ke dokter langganan kami. Iya…aku ingat nama dokter itu Dokter Effendi di daerah mandala Medan. Oh Tuhan, betapa jauhnya perjalanan kesana. Mamak tetap semangat mengantarkanku berobat kesana dengan naik angkot. Hufh.. Di lain waktu, mamak juga suka membelikan ku susu sapi menggali asli. Penjual susu selalu datang tiap malam, entah mengapa dia rajin sekali. Padahal aku sangat jijik meminum susu itu. Alasan mamak supaya badanku yang kurus itu bisa sedikit normal seperti anak2 lain. Entah apa yang menyebabkan, dulu aku selalu bermasalah dengan pernafasan. Sampai akhirnya dokter bilang aku terkena paru2 basah. Sesak nafas jadi makanan sehari-hari. Dan mamak yang menemani aku ketika itu. Menyuapi nasi dicampur kuah daun ubi tumbuk dan menyuwir2 ikan sambil bilang: “sakit dedek untuk mamak aja ya…”, dan aku pun hanya tertunduk lesu.

Sekali waktu beranjak SMA, mamak sangat protektif. Aku gak dibolehin kemana2. Gak seperti teman2 lain yang bisa pergi kemana saja sesukanya. Tapi sekali waktu, mamak agak koperatif dengan mengijinkanku pergi camping bersama teman2 lain. Yah sebelumnya, aku sudah menyuruh seluruh teman2ku untuk kerumah dan membujuk mamak.

Setelah SMA, aku melanjutkan kuliah di salah satu politeknik negeri di Kota Medan. Mamak sih mendukung aku dengan pilihan jurusanku. Btw, aku juga pernah bertengkar dengan mamak. Ntah menurutku mamak ini terlalu kejam. Ntahlah… Kejam apanya? Iyahh..dia selalu menyuruh aku membersihkan rumah sebelum pergi kuliah. Kebetulan aku kuliah siang, jadi dia selalu memanfaatkan aku untuk membersihkan seluruh rumah sebelum aku pergi kuliah. Yah namanya bibit2 malas juga ada dalam diri, sedangkan kakak ku hanya melenggang pergi ke kampus dengan indah setiap pagi. Apakah itu namanya kejam ya? *mulai mikir..

Mamak pelit?? Iyah dia pelit. Dia sangat membatasi pengeluaranku. Aku sebel..jelas sekali. Mamak selalu menghitung2 uang dan menyisihkannya di amplop. Setiap amplop diberi judul sesuai pengeluarannya masing2. Aku suka kepo dan ikut nimbrung kalau mamak sudah memasukkan uang ke amplopnya masing2.

Mamak gak suka makan gula. Tapi mamak suka makan nasi. Iyah namanya dia gendut, semua makanan dia doyan. Mamak sangat suka makan dengan sambal terasi. Dia sangat cinta dengan sambal terasi buatanku. Mamak juga pecinta makanan pedas. Mungkin sekarang aku suka pedas karena tertular dari mamak. Hmm…

Karna kecintaannya pada nasi beserta teman2nya, akhirnya berapa tahun yang lalu mamak divonis diabetes. Dia protes,”kan mamak gak suka makan gula. Gak suka makan coklat. Kenapa bisa diabetes..?” Baiklah, dia lupa kalau nasi juga merupakan sumber karbohidrat tertinggi penyebab diabetes apabila dikonsumsi tanpa olahraga.  “Tapi kan mamak olahraga, nih bersihkan rumah setiap hari..” iyah juga. Tapi mungkin tidak mengolah seluruh badan.

Tamat kuliah, aku cuma pengen kerja. Punya penghasilan sendiri dan bisa beli barang2 sesukaku. Tapi tetap mamak meminta jatah, tapi tidak masalah..toh dia memasakkan makanan untuk ku setiap hari. Suatu waktu, mamak sakit. Ntah kenapa tanpa keluhan sebelumnya, mamak buang air besar dan yang keluar hanya gumpalan2 darah. Mamak sangat ketakutan. Wajah mamak juga tampak pucat karena gumpalan darah itu terus keluar. Akhirnya kami membawa mamak kerumah sakit terdekat. Setelah dilakukan endoskopi oleh dokter, diagnosanya usus mamak luka dan berlobang2. Ngeri membayangkannya. Akhirnya, aku gak tega melihat mamak di rumah sakit. Terpaksa ijin dari kantor dan menemani mamak. Tapi ternyata pihak kantor tidak mengijinkan dan memberi peringatan. “Ah kejam sekali mreka ini..” pikirku. Karna itu aku memutuskan untuk berhenti dan nglanjutin kuLiah aja. *ga punya duit lagi.

Bahagia itu ketika nglihat mamak menangis bahagia, anaknya yang bandel ini akhirnya lulus di salah satu perusahaan bumn. Yah, dia mempersiapkan segala yang aku butuhin untuk pergi mengikuti diklat selama 1 bulan. Pertama kalinya dia berpisah sama anaknya yang manja ini.

Sedih itu mendengar mamak nangis semingguan gegara penempatan kerja aku gak di Medan. Yah namanya cari rezeki ye mak.. Tapi disamping itu, dia tetap bahagia pastinya.

Setiap pulang, mamak selalu menodong untuk beli ini itu. Hahhaha…habis sih ya duitnya, tapi bahagia. Bisa belikan apa aja yang mamak mau.

Ultah ku dan ultah mamak juga di bulan yang sama. Kami para cancer yang punya mood berubah2. Hahhaha… Sms dari mamak yang sangat mengharukan untuk anak seumuran aku. “Selamat ulang tahun anakku, semoga sehat selalu dan tercapai semua keinginan dedek. bla..bla..bla..” aku lupa, tapi membuat aku terharu pake bingit ketika itu.

Sedih itu juga ketika mendengar ginjal mamak rusak karna diabetes. Ada hubungannya? Iyah saya baru tau. Akibat mamak yang sangat doyan makan nasi menyebabkan diabetes. Ohya..diabetes itu juga faktor keturunan lho. *mewanti2 diri sendiri.

Kerusakan ginjal mamak kayaknya sudah parah. Badan mamak gatal2 sampai kadang tidak tertahankan. Mungkin karna fungsi ginjalnya terganggu, sehingga tidak bisa mengolah darah dengan baik dan racun2 pun menyebar ke seluruh tubuh. Selain itu juga, mamak sering sakit di bagian pinggang. Ternyata bukan karna ginjalnya teman, tetapi kerusakan ginjal juga mengancam kalsium tulang. Sehingga tulang mulai rapuh dan menyebabkan sakit di sekitar pinggang. (Info dari dokter langganan mamak di Island Hospital,Penang)

Mommy….mamak kecintaan, hayuk semangat untuk sembuh. Ketakutan terbesar mamak ketika dokter mengharuskan untuk segera cuci darah. Iyah, wajar aja. Karna aku dan mamak pernah menyaksikan seorang teman gereja yang akhirnya meninggal dunia ketika pertama kali cuci darah.

Ntah inisiatif atau apa, akhirnya mamak bersedia cuci darah. Iyah mamak akan cuci darah di salah satu rumah sakit ginjal di Medan. Agak meragukan,tapi aku percaya itu untuk kesembuhan mamak.

06 September 2014, jam 12 mamak harus cuci darah. Mamak berbicara denganku lewat telepon. Dia menangis, iya dia menangis..tapi sebagai anak yang inginkan ibunya panjang umur tentu aku memberi semangat mamak supaya jangan takut. Teori? Iya aku teori aja. Kalau aku di posisinya mungkin aku gak sanggup menegakkan kepala lagi.

Tapi Tuhan berkata lain, mungkin mamak terlalu lelah. Mamak terlalu sakit, mamak sudah capek, mamak lebih memilih bersama Tuhan. Iyah…mamak pergi. Pergi meninggalkan kami semua selamanya. Meninggalkan aku anaknya yang belum menikah ini. Tanpa dia berpikir untuk menunggu ku menikah dulu, hmmm…

Melihat badan mamak yang terbujur kaku dan tertidur di ruang tamu, pedih… tapi ntah aku gak bisa mengungkapkan kesedihan itu dengan menangis meraung2. Atau aku udah terlalu capek menangis di pesawat menuju Medan dari Padang. Kosong yang aku rasain ketika melihat orang ramai melayat ke rumah. Iyah mamak ku udah gak ada. Dia udah pergi..dia udah gak sakit lagi. Mungkin dia gak akan makan bakso atau nasi lagi. Mungkin dia akan makan makanan yg lebih lezat bersama Tuhan di Surga.

Selamat jalan mamak, aaaaahhh…payah bilangla kalo kata orang Medan. Sampaikan salam adek ke Tuhan ya ma… supaya diberkati rencana pernikahan dalam Desember 2014 ini. Mamak slalu ada di hati..iyah di hati. Slalu merindukan senyum mu, tawamu, marahmu, lengkingan suaramu, permintaan2mu, belaian rambutmu, tertidur di lengan gendutmu, atau hanya sekedar terduduk lesu di kaki gendutmu.

20140102_203531

Aku cintaimu ma…sampai kapanpun..